Langsung ke konten utama

Di Lepau itu Cinta Jadi Misteri

LEPAU ~ tipikal rumah panggung yang memiliki lepau (beranda) panjang, banyak ditemukan di perdesaan atau wilayah pesisir Pulau Sumatera (Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan)  sumber gambar : romadecade.org

Cerpen

Oleh: Zabidi Yakub

Di lepau rumah panggung itu, dengan desah napas yang panjang, kamu berujar: Indonesia memang luas. ”Oh, tentu,” jawabku kala itu. Kamu yang lahir dan besar di Bantul, kota kecil bagian selatan Yogyakarta. Aku tahu tentang kotamu itu, setidaknya tentang makanan khasnya, geplak. Yang rasa manisnya nyelekit, yang karena ada campuran kelapa, jadinya tidak tahan lama, tapi banyak juga yang menjadikannya sebagai oleh-oleh bagi sanak famili di rumah bila habis berkunjung ke Yogya. Walaupun toh sesampai di rumah saat dimakan akan terasa sedikit tengik, ujungnya ya habis juga karena justru di situlah letak khasnya.
Aku tahu makna desah napasmu yang panjang kala itu, karena tak pernah tebersit di pikiranmu kalau akhirnya kamu akan menginjakkan kaki di tanah leluhurku. Di hari kedua perpeloncoan di kampus IKIP Karang Malang itu, di perbincangan kita saat kenalan kamu mengernyitkan dahi kala tahu aku dari sumatra. Karena sumatra yang kusebut, sehingga lekatlah di ingatanmu dan akhirnya terbawa-bawa dalam lakonmu sehari-hari dengan memanggilku cah sumantra. Aku tak peduli, dan tak merasakannya mengganggu jalinan persahabatan kita.
Tapi, jadi aneh kurasa kala aku memperkenalkan seorang temanku, yang diam-diam naksir sama kamu. Kala tahu dia juga cah sumantra, responmu begitu dingin dan menunjukkan perasaan tak berminat untuk sekadar mengenalnya meski ogah jadi pacarnya. Alasanmu memang bagus, tak mau waktu terbuang begitu saja hanya sekadar diisi dengan acara mengenal lebih jauh, kemudian bubar dan saling menjauh karena tak ada kecocokan satu dengan yang lain.
Aku tak merasa aneh tatkala mendapat kabar ternyata kamu ditugaskan sebagai guru di sebuah sekolah dasar di desa terpencil di Kabupaten Lampung Barat. Bukankah saat menerima SK tugas setiap guru dihadapkan pada sebuah ’janji’ bahwa; bersedia ditempatkan di mana pun di wilayah Indonesia. Maka jauh-jauh kamu dari sebuah kota kecil di selatan Yogya untuk mengabdi sebagai guru di sini.
Keberadaanmu di sini aku tahu dari cerita teman yang juga guru di tempat tugasmu. ”Sekolah kami dapat tambahan guru dari Yogyakarta, jangan-jangan dia kawan kuliahmu dulu, katanya. Aku penasaran. Setelah aku korek-korek identitasmu, ah ternyata benar. ”Iya, benar, dia kawanku kuliah, bahkan ada lho orang Krui yang naksir dia dulu, tapi ditolaknya mentah-mentah,” jawabku.

”Ya, udah, datangi aja dia ke sekolahannya,” kata teman itu. ”Nantilah, kapan-kapan,” jawabku. Akhirnya kupacu sepeda motor GL-Pro dari Krui ke tempat tugasmu. Aku jadi tak sabar untuk berjumpa. Tapi, ah... ternyata tidak mudah mendatanginya. Aku harus menitipkan sepeda motor lalu berjalan kaki mendaki tebing landai berembun, setelah lepas dari hamparan padi menghijau di sawah. Sebelum memulai pendakian, aku cuci terlebih dahulu kaki di aliran irigasi pinggir sawah. Betapa jernih airnya, dan terasa sejuk di kaki.
Di awal pendakian tubuh ini langsung disergap kokohnya pohon damar yang sengaja ditanam penduduk untuk dipanen getahnya. Setelah bertemu jalanan datar, aroma kembang kopi semerbak menyeruak rongga pernapasan yang terasa sengal menjadikannnya sedikit melonggar. Dan tentu saja rimbun tanaman lada yang merambati pohon dadap di perkebunan kopi dapat pula dijumpai. Betapa makmur penduduk di sini.
***
Di lepau rumah panggung yang kamu kontrak, kamu kisahkan liku perjalananmu mulai dari saat tes CPNS sampai mendapat SK. ”Semula aku terperangah dan merasa masygul begitu mengetahui tempat tugas yang tercantum di SK itu. Sebuah SD di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Antara ya dan tidak, diambil atau ditolak, berangkat apa tidak, begitu berkecamuk di pikiranku. Yang mana yang harus kuambil sebagai keputusan final,” begitu kamu mengawali kisah. Dan terus melanjutkannya…
Untungnya ada seorang teman yang mendapat tempat tugas juga di Lampung Barat. Setelah rembugan dan penuh pertimbangan yang matang, akhirnya kami putuskan untuk berangkat. Dengan diantar paklikku dan kangmas teman itu dari Yogya kami naik kereta Senja Utama menuju Gambir. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan bus ke Merak. Dari Merak naik kapal ferry menuju Lampung. Setelah tanya-tanya didapatlah petunjuk bahwa kami mesti menempuh satu hari perjalanan lagi dari Tanjungkarang menuju Krui.
Sejenak ceritamu terhenti untuk menjawab sapa anak-anak yang baru pulang bermain dan lewat di halaman rumah yang kamu sewa.

Senja hari baru tiba di Krui, tak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan, jadinya kami putuskan menginap. Setelah cari informasi pada pemilik hotel, didapatlah gambaran bahwa teman itu harus meneruskan perjalanan menuju Kecamatan Pesisir Selatan. Sedangkan aku ke Kecamatan Pesisir Utara, konon masih 50an km lagi jarak yang harus ditempuh ke arah Bengkulu.
Setelah terhenti lagi karena kamu ke dapur untuk membuatkan aku kopi lalu menghidangkannya, kamu lanjutkan kisah. Keesokan paginya setelah sarapan dan acara perpisahan, teman sama kangmasnya mencari kendara yang tujuan Pesisir Selatan, sedang aku sama paklik dengan angkutan perdesaan berupa mobil pikap yang diberi atap terpal, perjalanan kami lanjutkan. Bentangan jalan aspal yang baru saja selesai dibangun, mempercepat jalannya kendara yang kami tumpangi. Ya... jalan ini memang benar-benar baru selesai, untuk membuka isolasi dan memudahkan bagi para pendatang. Tak terbayang kalau dapat SK tugas ini datang ke lokasi masih harus ditempuh lewat laut dengan berperahu dari Krui. Seperti cerita guru-guru senior di sini, saat pertama mereka datang dahulu.
***
Sambil menyeruput kopi yang kamu hidangkan, aku menyela ceritamu, "dahulu kamu sering memanggilku cah sumantra. Tak pernah kamu sangka kan, akhirnya kamu ditugaskan jadi guru di pelosok sumantra!"

”Iya, bener, sungguh nggak aku sangka. Rasanya seperti mimpi saja." Kamu terkekeh. Lalu meneruskan kisah perjalananmu kala itu. Sesampai di lokasi sesuai petunjuk yang kami peroleh dari pemilik hotel tempat kami menginap di Krui, setelah tanya-tanya ternyata kami harus mendaki lereng Gunung Pugung untuk mencapai Desa Batu Bulan, lokasi SD yang tercantum di SK itu berada. Sungguh tak terbayang olehku tempat SD ini di lereng pegunungan yang terpencil.
Semula ada rasa tak percaya, ada perasaan tak menentu yang membuat ciut nyali, apakah tidak akan bertemu binatang buas, dan macam-macam hal ganjil lainnya, terlintas di pikiran. Tapi, berkali-kali penduduk di Pasar Lemong itu meyakinkan kami, bahwa tidak akan ada binatang buas karena di lereng-lereng gunung itu bakal dijumpai perkebunan penduduk, jadi bukannya hutan belantara seperti yang terlukis di bayangan.
Perlahan tapi pasti, rasa tak percaya, perasaan tak menentu, nyali yang ciut, ketakutan akan adanya binatang buas, sirna seiring munculnya rasa takjub, kagum dan perasaan nyaman yang menyeruak menguak kalbu. Subhanallah, betapa luas ternyata Indonesia ini, betapa Mahakaya Allah swt. menciptakan alamnya sedemikian indah.
Karena perasaan itulah, aku kok langsung berpikir, sepertinya bakal kerasan di sini. Dan ketika urusan lapor dan serah terima SK dengan pihak sekolah selesai dan pasti di mana aku bakal ditempatkan, paklik merasa nyaman dan tak was-was meninggalkanku. Aku ditumpangkan di rumah ini, dan aku suka dengan berandanya yang panjang ini,” katamu mengakhiri cerita.
”Ini namanya lepau,” kataku saat itu.
Dan di lepau itu kamu melepas paklikmu berangkat kembali ke Yogya. Tentu, di lepau itu pula hari-harimu kamu isi dengan membolak-balik buku pelajaran untuk menguasai materi yang akan kamu sampaikan pada murid. Di lepau itu pula kamu melepas imajinasimu berkeliaran ke mana-mana, lalu kembali membawa bermacam romansa dan kamu tuang dalam puisi-puisi atau cerpen seperti kebiasaanmu tatkala masih menghuni kamar kost di bilangan Gejayan, kemudian mengirimkannya ke surat kabar Minggu Pagi atau Masa Kini.
Kebiasaanmu mengakrabi dunia sastra di masa kuliah dulu, setidaknya itu yang menolongmu jadi kerasan tinggal di rumah panggung di Desa Batu Bulan ini. Tapi, kalau saja kamu mau untuk sekadar mengenal lebih dekat temanku yang kuperkenalkan di awal perkuliahan dulu, dan tersemai benih asmara walaupun akhirnya kamu tak cocok padanya, tentu akan lain ceritanya,” selorohku. 
”Mengapa begitu,” tanyamu kala itu.
”Nanti saja jawabnya,” kataku.
Maksudku, aku ingin menciptakan rasa penasaran di batinmu. Dan aku lama menunggu kalau-kalau kamu tak sabar menginginkan jawaban. Tapi, bukannya penasaran yang tumbuh. Karena sifatmu memang tidak suka pada hal-hal yang tidak jelas dan tak masuk akal. Aku tahu persis dengan karakter itu.
Sebenarnya, bagaimana untuk mengatakannya tidak jelas dan tak masuk akal. Bila kukatakan padamu bahwa temanku cah sumantra yang naksir berat sama kamu tapi tak menarik minatmu dulu, ia aslinya orang Krui dan kini jadi guru di Krui. Masih membujang.
Aku tak tahu alasannya apa, tak mudah untuk menanyakan hal yang amat pribadi dan sensitif itu. Tapi, bisa jadi hanya kamu yang kena di hatinya. Dan, kalau saja aku cerita padanya tentangmu yang jadi guru di Batu Bulan, apakah dia tidak penasaran untuk menyorongkan kembali hatinya agar kali ini benar-benar kamu terima, bukannya kamu abaikan seperti waktu itu.
Tapi, aku tak berani menceriterakannya karena aku tak yakin kali ini di hatimu akan timbul perasaan suka, dan aku takut kalau lagi-lagi kamu tolak ia, nanti ia akan semakin lama membujang. Bagaimanapun juga kamu dan ia teman baikku. Jadi, sebaiknya aku tak cerita padamu tentangnya, dan tak cerita padanya tentangmu. Biarlah lepau yang menyimpan misteri ini. 

Pugung Penengahan, 7 Maret 1996



Glosarium:
lepau (beranda rumah panggung, bhas. Lampung)
cah sumantra (anak sumatra, bhs. Jawa)
ogah (tidak mau, bhs. Jawa)
paklik (paman, bhs. Jawa)
kangmas (kakak lelaki, bhs. Jawa)
kerasan (betah, bhs. Jawa)



Catatan:
Setting cerita mengisahkan kejadian sebelum Kabupaten Lampung Barat dimekarkan yang lalu melahirkan Kabupaten Pesisir Barat berdasar UU No.22 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pesisir Barat pada 25 Oktober 2012. Saat ini tempat-tempat (lokasi) di cerita ini masuk dalam wilayah demografi Kabupaten Pesisir Barat.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...