Langsung ke konten utama

Menebus yang Hilang

Karena pada hari Jumat selumbari saya tidak 'safari jumat' karena ada kurir OFFO LIVING mengantarkan barang yang kami beli (inden) sekalian merakitnya di rumah, saya mesti menyambut mereka datang dan menyaksikan proses mereka merakitnya.

Maka, pulanglah saya dari masjid Al-Anshor. Balik kandanglah saya salat jumatan di masjid Ikhlas Al-Azhar. Mengambil jeda di sela-sela merakit, seorang kurir pergi jumatan. Saya pun menyusul ke masjid, padahal semula saya berpikir akan absen jumatan.

Suasana jemaah Zuhur di masjid Al-Anshor 

Maka, siang ini saya salat Zuhur di masjid Al-Anshor buat 'menebus yang hilang' selumbari, yaitu 'safari jumat' di masjid itu. Sebelum saya melakukan 'safari jumat', setiap hari Jumat saya jumatan di masjid Al-Anshor. Lalu saya terpikir berpindah ke masjid lain.

Maka, begitu masuk tahun 2026, di Jumat pertama (3/1), kebetulan kami sehabis stay cation di Holiday Inn Bukit Randu dan hendak makan siang di Alam Kuring Resto, kami salat jumatan di masjid Nurul Hidayah Jl H Syarif, Kedamaian. Itu momentumnya.

Sejak itu saya gasken bersafari jumat dari masjid ke masjid. Dan, hanya pada Jumat selumbari saya balik kandang ke masjid Ikhlas Al-Azhar. Ketika hendak 'safari jumat' di masjid Al-Anshor, terkendala ada kurirnya OFFO LIVING hendak mengantar barang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...