Langsung ke konten utama

HPN

Kemarin, 9 Februari adalah Hari Pers Nasional (HPN). Insan pers dari media dan organisasi apa pun hadir merayakannya. Tahun 2026 ini sebagai tuan rumah adalah Provinsi Banten. Teman-teman wartawan koran tempat kami bekerja dahulu, masih bertungkus lumus di media online pada HPN kali ini, tentu ada yang hadir ke Banten menyemarakkannya.

Saya tidak mendaftarkan diri sebagai wartawan atau kerennya jurnalis, sehingga saya tak memiliki kartu anggota organisasi kewartawanan apa pun. Saya ini cuma pekerja pers biasa di bagian pracetak LE. Tugas nyambi sebagai pekerja teks (redaktur) pada desk berita apa pun yang ditugaskan pemimpin redaksi, berganti-ganti, berpindah-pindah. Tour of duty.

Kios koran sebatang kara di kota Metro 

Di antaranya desk olahraga, kriminal, daerah, seni & budaya. Itu untuk 'jabatan' pekerja teks (redaktur), sementara untuk 'jabatan' kepala bagian pracetak, saya bertanggung jawab memegang halaman 1 atau perwajahan koran. Make over tata letak berita dan foto semenarik mungkin agar tampilan wajah koran jadi terlihat cakep. Bukan MUA, melainkan MUK.

Sepulang menghadiri HPN atau Porwanas, wartawan yang ditugaskan oleh kantor membawakan oleh-oleh berupa kaos suvenir acara atau kegiatan tersebut. Ada kaos HPN di Sumatra Barat dan Makassar yang masih sering saya kenakan. Sejak koran kami tutup, tak ada lagi cerita menerima oleh-oleh suvenir kaos tersebut. Cerita yang jauh sekali, sebelum Covid-19.

Disrupsi media membuat perusahaan surat kabar berhenti menerbitkan koran cetak. Bersalin rupa, mengalihkannya ke media online. Bersaing untuk menjadi yang nomor satu, sebagai yang paling pertama menayangkan berita. Clikbait mendorong media membuat judul berita bombastis, menggelitik pembaca untuk mengeklik. Kemudian merasa ditipu.

Banyak isi berita yang tidak sesuai dengan judul. Ya, alasan demi mengejar views sebanyaknya, rating tinggi, dan menjadi yang nomor satu dan tercepat tadi, sehingga kaidah penulisan berita yang mestinya berpedomani dan mengedepankan unsur 5W1H tidak lagi diindahkan. Banyak pembaca tertipu judul berita yang bombastis, begitu menggoda, tapi isinya zonk.

Matinya koran cetak, mati pula profesi sebagai loper koran. Padahal, loper koran adalah pekerjaan paling santai di dunia, hanya bekerja kisaran 3 jam doang mengantarkan koran ke pelanggan, tetapi hasilnya lumayan gede. Kios koran pinggir jalan juga jadi hal yang langka dijumpai. Di kota Metro saya temukan kios 'sebatang kara' menjual satu jenama koran.

Di perempatan lampu bangjo Wayhalim masih ada kios koran bertahan sebagai sisa-sisa masa kejayaan koran cetak. Surat kabar yang dijual, saya perhatikan, adalah koran 'pinggiran' yang menjaga marwah di tengah ketidakpedulian orang-orang yang lewat bersicepat memburu waktu ke segala penjuru arah.

Jangankan mampir membeli, sekadar menoleh pun ora gelem. Kios koran betul-betul bertahan, berdiri menantang zaman dan menjaga marwah koran yang dijual agar khalayak tahu bahwa ada koran seperti itu. Setidaknya untuk masa semenjana, dari perayaan Hari Pers tahun ini ke perayaan Hari Pers berikutnya.

Selamat Hari Pers Nasional 2026.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...