Langsung ke konten utama

Pedas pake Banget

Tidak pernah lagi saya menemukan nasi goreng yang enak, padahal waktu dahulu masih kerja di koran berkantor di jalan Urip Sumoharjo, mulai dari depan RS Urip Sumoharjo hingga bunderan BKP, saya hafal di mana saja nasi goreng yang enak mangkal.

Semenjak koran itu tutup tahun 2016 dan pandemi Covid melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2022, pedagang makanan apa pun kolaps. Ya, jangankan pedagang kecil pinggir jalan, wong pengusaha besar pun rontok dan tutup, melakukan PHK besar-besaran.

Habis Isya tadi saya menelusuri jalan di perum BKP mencari pilihan nasi goreng mana yang akan saya uji coba (cek ombak). Ada empat pilihan pedagang nasi goreng gerobak. Yang tiga, kesemuanya sudah saya coba, uh... kurang rekomended. Jauh dari ekspektasi.

Ada satu yang baru saya lihat tadi, saya mampir dan nyoba beli. Dari cara mengolahnya saja jauh berbeda dengan cara penjual nasi goreng gerobak umumnya, saya sudah bisa membayangkan bakal seperti apa rasanya. Nah, benar belaka, rasanya sungguh aneh.

SOP penjual nasi goreng, umumnya menggongseng bumbu dahulu sampai tercium bau bumbu khas nasi goreng baru memasukkan nasinya. Tadi kebalikannya, nasi terlebih dahulu yang dimasukkan ke dalam kuali, baru disusulkan bumbu-bumbunya, lalu digongseng.

Karena yang saya pesan rasa pedas, ternyata rasanya memang pedas pake banget. Keringat saya berlelehan di dahi sebagai efek kepedasan itu. Tak sanggup saya menghabiskannya, takut kalau besok keluar efeknya, yaitu tindakan menguras isi usus. Gawat bin berabe.

Sering kejadian sehabis makan nasi goreng pedas, besok atau lusanya saya kena diare. Usus seperti dikuras jadinya. Daripada kejadian serupa, makanya saya antisipasi dengan berhenti meneruskan makan, tak sampai habis. Kan bakal puasa. Itu masalahnya.

Apa jadinya bila saat memasuki awal puasa Ramadan, awak sedang dilanda diare. Tentang apakah akan balik lagi beli nasgor di situ tadi? Entah juga. Bila masih ada pilihan tentu akan berpindah ke lain hati. Kiranya, begitu halnya. Sebuah perjuangan menemukan yang enak itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...