Langsung ke konten utama

“Membayar Kekalahan”

Pekan lalu, sedianya saya berniat safari jumat di masjid perumahan Springhill, tapi agak sungkan karena ini perumahan elit, di gerbang mesti melewati portal yang dijaga sekuriti. Sebenarnya tidak apa-apa, dengan dress code baju koko dan di kepala bertengger kopiah, mereka sudah mafhum bahwa masuk ke sana tujuannnya hendak ke masjid yang ada di dalam, tentu dibolehkan.

Akhirnya saya mutar-mutar tak tentu arah tujuan hendak ke masjid mana, lalu berlabuh di masjid Al-Istiqomah Gang Bayur. Nah, demi “membayar kekalahan” pekan lalu, tadi saya langsung saja masuk kea rah Springhill. Melewati portal, sekuriti mengarahkan pandang matanya ke pelat nomor polisi motor. Barangkali sudah SOP bagi yang bukan penghuni mesti begitu bila masuk.

Interior masjid

Entahlah, apakah dicatat atau tidak. Karena sudah pernah dahulu salat Zuhur di masjid itu saat menghadiri undangan aqiqah cucu sohib istri, maka saya masih ingat arah jalan yang mesti dilewati menuju masjid. Tak tersasar ke mana-mana karena begitu belok dan lurus, langsung deh ketemu masjid yang saya tuju. Saya langsung masuk, sudah banyak bocil-bocil di dalam dan luar masjid.

Dari sejak lama saya perhatikan, rombongan bocil keluar perumahan Springhill bakda jumatan dengan menenteng styrofoam makanan. Rupanya di masjid saban jumat selalu ada “jumat berkah” bagi-bagi makanan. Baru ngeh tadi ketika bubar salat, bocil-bocil tertib berbaris, antre menerima “jumat berkah”-an. Wujud rupanya macam-macam, gak mesti nasi. Adakalanya cuma cilok.

Nama masjidnya Al-Muhajirin 

Waktu safari jumat di masjid Baiturrahim, Beringin Raya, saya dikasih cilok oleh pengurus masjid yang membagi-bagikannya. Pekan lalu, saat safari jumat di masjid Al-Istiqomah Gang Bayur, saya dapat bagian “jumat berkah” berupa mie ayam yang, sehabis menyantapnya saya begegas ke masjid Al-Anshor untuk donor darah. Rupanya donor darah ini merupakan digerakkan mahasiswa KKN.

Baru saya tahu itu merupakan salah satu kegiatan mahasiswa KKN Unila, setelah membongkar tas kain yang diberikan unit donor darah dari PMI Kabupaten Lampung Selatan, isinya satu botol (180 ml) O’live Milk dari Entrasol, biskuit wafer Tango Royal Chocolate, snack Fitbar, air mineral Tripanca 330 ml., dan gantungan kunci KKN Unila. Ini luput disinggung pada postingan tentang donor.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...