Langsung ke konten utama

Orang Bijak

Hajat tahunan, balik maning nang kene, ke Samsat Rajabasa, Bandar Lampung, buat menunaikan kewajiban sebagai orang bijak --taat pajak-. Mestinya kemarin hendak ke sini, tapi ada hujan kepagian singgah di jalanan depan rumah...

Tadi sahur anak ragil, si pemegang motor, nelpon ibunya nanyakan STNK sudah dikirim apa belum.   La, pajaknya dibayar aja belum boro-boro dikirim. Dijelaskan ibunya, pagi tadi hujan jadi gak bisa ke Samsat, baru besok (hari ini, red) ayah akan pergi.

"Orang Bijak" antre bayar pajak kendaraan 

Subuh tadi gerimis, tapi tidak menderas seperti kemarin. Habis syuruk turu sik menghangatkan badan dari cuaca dingin. Bangun pukul 8 masih terasa dingin, takmandikan sekalian biar hilang dinginnya. Ke Samsat, sudah ada 'orang bijak'.

Belum banyak sih, baru ada 13 orang. Ke tempat fotokopi dokumen. Saya basa basi, "Puasa sepi, ya!" Dijawab abang-abang petugas fotokopi, "Iya, Pak, apalagi cuacanya begini." Saya sambung, "Iya, mestinya kemarin mau ke sini, hujan gak jadi."

Menyerahkan fotokopi dokumen ke meja petugas pendaftaran, dikasihnya nomor antrean 9. Duduk, agak ragu hendak nunggu di musala sambil Dhuha dan tadarus. Ah, coba ditunggu dulu di sini. Tidak lama mulai dipanggil. Tujuh orang maju ke loket.

Saya nomor 9, berarti tak lama lagi. Benar belaka, ragu itu muasalnya dari insting. Hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pun mengingatkan agar meninggalkan hal ihwal yang membuat ragu-ragu. Ini juga bagian dari sikap bijak seperti bayar pajak.

Matan hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam 

"Tinggalkanlah sesuatu hal yang meragukanmu dan beralihlah kepada sesuatu yang tidak meragukanmu" (H.R. Tirmidzi dan Nasa'i). -- Hadis ini mengajarkan sikap wara' (hati-hati) dengan meninggalkan perkara syubhat (samar hukumnya) demi ketenangan jiwa.

Yah, namanya juga UPC (unit pelayanan cepat) atau dengan istilah lain Drive Thru, ya, tentu saja mesti cepat dong. Coba kalau saya tinggalkan ke musala, akan dilewatkan. Jadi bukan UPC atau Drive Thru namanya, melainkan 'unit terlewat teledor' 😀😀

Nah, kenapa sudah ada 13 'orang bijak' menunggu di situ tadi kok saya dikasih nomor 9? Oh, berarti ada yang cuma mengantar atau ada keperluan lain. Atau cuma numpang nongki seperti sepasang muda-mudi yang asyik ngobrol, mungkin hendak ke kafe tutup.

Di seberang Samsat ada Sambel Seruit Buk Isah, Kopi Ketje, Pindang Palembang. Saya lihat masih tutup. Di sebelah Dirlantas ada Alfamart & Kopi Koccok. Saat puasa begini apakah Kopi Koccok buka di siang hari? Entahlah, tak begitu memperhatikan tadi pas lewat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...