Langsung ke konten utama

Balik Kandang

Sedianya saya hendak salat jumatan di Masjid Al-Anshor. Saya sudah masuk dan salat sunah tahyatul masjid. Di tengah salat sunah, ada notifikasi pesan WhatsApp masuk karena hp belum saya silent. Selesai salat, saya baca pesan tersebut, rupanya dari kurir OFFO LIVING yang akan mengantarkan barang yang kami beli lima hari lalu (inden), dikirim hari ini.

Saya putuskan keluar masjid dan pulang. Di layar hp, tertera waktu mendekati pukul 12, mobil barang dari OFFO LIVING tiba di depan rumah. Dua orang dari bagian teknisi perakit barang langsung menggotong lemari dalam kemasan dus masuk ke dalam rumah. Gak pake lama, kardus dibuka dan perakitan barang pun segera dikerjakan oleh mereka bersama-sama.

Tak lama azan terdengar berkumandang dari TOA masjid. Satu teknisi berpamitan untuk salat jumatan, sementara satunya tidak karena non-muslim. Saya pun mengambil air wudu dan gegas ke masjid, salat sunah tahyatul masjid lagi karena yang tadi sudah saya kerjakan, tempatnya di masjid Al-Anshor bukan di masjid ini. Masuk masjid, ya, tahyatul masjid lagi.

Maka, ceritanya, saya balik kandang ke masjid Ikhlas Al-Azhar, dekat rumah yang, pembangunannya gak selesai-selesai. Jadi, pada Jumat pekan ini, saya gak 'safari jumat' seperti yang telah saya lakukan. Tidak juga 'safari ramadan' ke masjid mana pun. Kemarin,    waktu Zuhur, saya 'safari ramadan' (salat Zuhur) di masjid Al-Ishlah Blok L. Pecah telor, jadinya, hari ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...