Langsung ke konten utama

Jalan Menuju Istikamah

Melanjutkan kehendak istikamah langkahkan kaki safari jumat, tadi saya sempat mutar-mutar hendak ke masjid mana karena tidak ada perencanaan. Saya menujua ke masjid Al-Aqso di Blok R, eh… rupanya masjid itu tidak dipakai salat jumatan karena warga di sana sepertinya jumatan di masjid Al-Anshor. Akhirnya saya masuk ke Gang Bayur.

Nah, masjid yang hendak saya tuju juga sepi, tak ada bunyi-bunyian spiker masjid ke luar dari TOA di atas atap. Kembali saya keluar ke jalan raya menuju arah Kurungan Nyawa, balik masuk Gang Bayur, ke masjid yang memang dari jauh terdengar lantunan ayat suci di TOA. Saya parkir motor dan masuk ke dalam masjid.

Eh, ada penikmat MBG, jadi anak saleh, ya!

Sejuk hawa dalam masjid dari pendingin udara di dinding menyergap tubuh saya, nyaman merasuk ke alam sadar saya. Usai salat tahyatul masjid dan dhuha, saya langsung buka gawai dan membaca Surah Ar-Rahman sebagaimana biasa saya lakukan. Selesai, saya cecelinguk mencari jadwal salat digital di dinding.

Terbaca nama masjid “Al-Istiqomah” di situ. Kelop sekali, kehendak istikamah safari jumat dipertemukan dengan masjid Al-Istiqomah ini. Jadinya semacam ada kemistri di perjalanan mencari masjid mutar-mutar nggak karuan pada mulanya. Ujungnya berlabuh di masjid yang membentangkan jalan menuju istikamah.

dapat sedekah 'Jumat Berkah' seporsi mie ayam 

Masjid Al-Istiqomah ini dan Husnul Khatimah tempat saya safari pekan lalu adalah masjid dengan azan dua kali. Kembali saya dipertemukan dengan masjidnya orang NU, setelah dua kali bertemu masjid yang azan satu kali (masjid Al-Hikmah di Gang PU dan masjid Baiturrahim di Beringin Raya), masjid Muhammadiyah.

Warna-warni ritual ibadah di masjid-masjid yang saya temukan setiap safari jumat, takkan saya pusingkan. Justru menambah pengalaman dan ilmu dari khutbah yang disampaikan khatib di atas mimbar. Selama itu bukan di masjid yang labelnya jelas saya kenali yang hanya jemaah mereka saja yang boleh salat di situ.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...