Langsung ke konten utama

Haul (Ngehol)

Ada dua haul yang saya hadiri berturut-turut dua malam berlalu. Selumbari (Rabu) malam haul (nyeribu hari) Bapaknya Busi (besti istri), tadi (Kamis) malam haul (nyeribu hari) imam masjid kami, Bapak Drs. Asrori (almarhum). Tak terasa sudah seribu hari (kurang lebih 3 tahun) lamanya mereka berpulang.

Haul (nyeribu hari) adalah semacam ‘upacara’ buat mengenang kepulangan sesorang yang waktunya sudah genap 1.000 hari atau kurang lebihnya, tidak mesti tepat hitungannya. Adakalanya pihak keluarga menepatkan waktu kirim doa pada malam Jumat, sehingga meleset dari 1.000 hari. Soal pilihan waktu.

Haul di tempat besti istri (Rabu malam)

Saya pikir hanya wong Jowo saja, seperti keluarga besti istri di atas yang merawat tradisi ngehol (ngadain haul), ternyata keluarga imam masjid kami yang merupakan ulun Lampung, juga mengenal tradisi ngehol. Mereka mengundang bapak-bapak jemaah masjid bakda salat Isya, untuk mengenang kepergian beliau dan kirim doa.

Atau mungkin memang ada kalangan luar wong Jowo yang juga melakukannya, seperti halnya ulun Lampung karena ngehol itu hanyalah istilah umum yang populer di masyarakat. Pada suku-suku lainnya (di luar wong Jowo) barangkali ada penyebutan lain selain ngehol, hanya saja saya tidak tahu atau belum pernah dengar.

Yang namanya tahlilan, pada penganut paham nahdiyin atau orang NU, adalah hal biasa dilakukan. Kendati ada kalangan yang menilainya sebagai hal bid’ah. Perihal mendoakan orang, Rasulullah SAW pun mendoakan. Artinya, apa yang dilakukan (NU), adalah turunan dari yang dahulu juga pernah dilakukan Rasulullah SAW.

Haul di rumah imam masjid (Kamis malam)

Hanya saja kemasannya sekarang dibuat dengan cara tahlilan. Kalau pun ada suguhan dari pihak yang kena musibah, bisa jadi itu memang sudah diniatkan sebagai sedekah penambah pahala bagi orang yang mati. Kami, masyarakat perumahan BKP, ada iuran rukun kematian (RKM) untuk subsidi silang bagi yang kena musibah.

Sependek pengetahuan saya memang begitu. Iuran RKM akan dikeluarkan sebesar sekian (misal Rp500K) untuk diberikan kepada keluarga (si mayit) yang kena musibah sebagai uang duka atau bantuan untuk biaya beli kain kafan dan membayar penggali makam. Jadi, pentingnya ikut iuran, di situ. Masa' merasa keberatan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...