Langsung ke konten utama

Bonus Tadarus

Ketemu deh teori gimana agar tadarus bisa mendapat dua juz per hari. Bakda Subuh nyicil setengah juz kudu bisa. Nanti bakda Dhuha rampungkan setengah juz sisanya. Lalu, buat ngisi waktu menunggu Zuhur, saya baca juz berikutnya, sedapatnya (gak mesti setengah juz apalagi 1 juz).

Sedapatnya itu artinya tergantung kekuatan mata. Syukur kalo bisa setengah juz, 10 lembar. Jikalau tidak, diusahakan antara 5 hingga 8 lembar. Nah, bakda Zuhur digeber abis hingga menyelesaikan membaca juz berikutnya tersebut. Maka, dapat terealisasilah dua juz per hari seperti diharapkan.

Quran Jumbo Duo Latin, 1 jilid 5 juz

Per hari ini (saya ikut yang puasa mulai 18/2 setelah melihat Masjidil Haram salat Tarawih pada 17/2 dini hari Waktu Indonesia bagian Barat), maka puasa saya sudah 11 hari dan tadarus dapat 14 juz. Artinya, saya mendapat bonus 3 juz. Besok akan masuk juz 15--16. Setelah ketemu pola ini, sepertinya sangat efektif.

Untuk 'safari ramadan' tadi siang saya salat Zuhur di Masjid Jami' Baiturahman, Beringin Raya, Jln. Bayam, Perumnas Langkapura. Sehabis salat Zuhur sekalian mencari camilan di Lakita Cake buat berbuka puasa. Saya beli martabak telur ayam 🐔 dua dan segelas es jelly (es teler gak ada) buat buka puasa berdua istri.

'Safari Ramadan' Zuhur di masjid ini

Setelah sebelumnya mampir dulu di warung makan seberang SMPN 14 beli sop dan sambal ijo. Bulan 🌙 puasa ini pola makan berubah total. Jam lapar makin lebar dari biasanya. Biasanya saya dan istri sarapan cuma ngopi dan ngemil gorengan. Makan pagi pukul 10 atau 11 siang dan makan malam pada pukul 4 sore.

Puasa ini, makan sahur mendekati pukul 4 pagi dan buka puasa pukul 6 lebih 20 menit (ambang magrib). Dihitung sejak imsyak pukul 4 lebih 40 hingga beduk magrib, begitu lebar jam lapar. Melebarkan jam lapar itu kiat sehat yang ideal, tentu hanya orang tertentu yang bisa menjalani. Maka, puasa itu menyehatkan.

Agak heran juga, tadi saat beli sop dan sambal ijo di warung makan seberang SMPN 14, saya menyaksikan beberapa orang sedang makan siang kesorean. Saya pikir kalau umpama sedang menstruasi, tapi mereka berjenis kelamin laki-laki. Laki-laki bukankah nggak menstruasi, lantas apa gerangan jadi uzur mereka?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...