Sayang sekali bermalam di kota tua ini berhiaskan hujan. Niat semula hendak keluar melihat seperti apa nuansa malam di sini. Ah, di Metro juga hujan gelisah, pengin senantiasa turun menghiba ke tanah. Kupikir hanya di kota Bandar Lampung saja yang begitu.
Kota tua ini penuh cerita. Lama jadi inang pengasuh (ibu kota) bagi kabupaten Lampung Tengah, akhirnya berdiri di kaki sendiri, mandiri sebagai kota dengan wajah semakin menua, setelah membelah diri dan terpisah dari kabupaten yang dulu disusuinya.
![]() |
| Masjid Agung Taqwa Kota Metro |
Sayang tak berhasil menikmati lekuk liku tubuh malam di jantungnya. Jantung kota Metro ini sesungguhnya di mana. Masjid Agung Taqwa angkuh di sudut persilangan empat jalan yang di tengahnya ada tugu sebagai pemisah ke mana langkah orang bergerak.
Lalu lintas tidak begitu ramai. Orang datang dan pergi dari luar kota, menjadikan kota Metro ini sebagai titik jeda sesaat melalui terminal. Orang transit ke penjuru Lampung. Datang dari Jawa mencari ladang kehidupan setelah jenuh bertahan dicambuk derita.
Semalam di Metro tidak melahirkan lagu seperti "Semalam di Cianjur" yang legendaris itu. Hujan membuat mati langkah, tak bisa ke mana-mana. Padahal, kota tua ini adalah jantung bagi daerah di sekeliling yang mengepungnya. Aku pengin sekali meraba jantung Metro.

Komentar
Posting Komentar