Waduh, sayang sekali
bermalam di kota tua ini berhiaskan hujan. Niat semula hendak keluar melihat
seperti apa nuansa malam di sini. Ah, di Metro hujan gelisah, pengin
selalu turun menghiba ke tanah, menghempaskan rasa gerah. Kupikir hanya di kota Bandar Lampung saja
yang perangai begitu.
Kota tua ini
penuh cerita. Lama jadi inang pengasuh (ibu kota) bagi kabupaten Lampung
Tengah, akhirnya mau berdiri di kaki sendiri, mandiri sebagai kota yang dengan wajah
semakin menua, setelah membelah diri dan terpisah dari kabupaten yang dahulu
disusui penuh cinta dan kasih sayang. Tanda punya wibawa.
![]() |
| Yuh, masih ada becak genjot di Metro |
Sayang kan tak
berhasil menikmati lekuk liku tubuh malam di jantung Metro. Tapi, jantung kota Metro ini
sesungguhnya di mana, saya kurang paham. Masjid Agung Taqwa angkuh di sudut persilangan empat
jalan yang di tengahnya ada tugu sebagai pemisah ke mana langkah orang
bergerak. Jantungnyakah?
Lalu lintas di jalanan tidak begitu ramai. Orang yang datang dan pergi dari luar kota, menjadikan kota ini sebagai titik jeda atau persinggahan sesaat melalui terminal. Orang transit ke penjuru
Lampung. Datang dari Jawa mencari ladang kehidupan setelah jenuh bertahan
dicambuk derita. Ke sini, mengadu nasib.
Stay satu malam di kota Metro tidak melahirkan lagu seperti halnya “Semalam di Cianjur” yang legendaris itu.
Hujan membuat mati langkah, tak bisa ke mana-mana. Padahal, kota tua ini merupakan jantung bagi daerah di sekeliling yang mengepungnya. Aku pengin sekali meraba
jantung Metro. Hujan tak kasih ruang.
Kota
Tua Penuh Cerita
Puisi
Zabidi Yakub
ini kota tua penuh
cerita
penghuninya merawat luka
derita yang mengeras di kepala
merintis jalan menemukan
kesejatian hidup bermasyarakat
ini kota tua yang
membelah diri
bukan menjadi guntingan perca
melainkan lumbung logistik
bahan pangan memamahi diri
dan disuplai ke daerah tetangga
dari tanah-tanah
tegalan
sayuran hijau segar-segar
jagung, ubi, kacang-kacangan
kobis, kentang, labu, dan wortel
dari sawah
berhektar-hektar
beras, ketan, dan budaya kerja
dari sungai-sungai ikan keramba
simponi petani dan nelayan
ini kota tua penuh
cerita
cermin soko guru pluralisme
keragaman budaya menyatu
menghangatkan kehidupan
satu padu dalam kebersamaan
Metro, 3 Februari 2026 | 22:28 |

Komentar
Posting Komentar