Langsung ke konten utama

Donor Lagi

Pulang dari safari jumat di masjid Al-Istiqomah dengan membawa seporsi mie ayam sedekah ‘Jumat Berkah’, tatkala melewati jalan depan masjid Al-Anshor, saya dipanggil tetangga yang salat jumatan di sana. Saya lihat ada ramai-ramai, saya tanya ada apa? “Ada donor darah, mau donor apa,” jawab tetangga itu.

Sejak donor pertama 27 Serptember 2024 sebelum umrah 8 Oktober 2024, kendati diingatkan aplikasi Kartu Donor digital yang saya tanam di pekarangan gawai, tak saya gubris dan pergi ke PMI untuk disedot sebanyak 350 cc darah lalu disimpan dalam kantong kedap udara ditaruh di lemari pendingin kantor PMI.

foto pendonor saat darah sedang disedot 

Entah kenapa pula saya abaikan peringatan ‘waktunya untuk donor’ dari Kartu Donor digital tersebut. Padahal, secara kondisi kesehatan sepulang dari umrah, itu saya sangat sehat. Bahkan, selama menjalani rangkaian ibadah umrah, baik di Madinah maupun di Mekah, saya termasuk yang paling sehat di rombongan keluarga.

Secara keseluruhan rombongan jemaah travel umrah, tidak ada yang menderita demam serius. Kalau sekadar agak meriang karena flu, hal lumrah. Pemicunya karena capek dari penerbangan selama 9 jam Cengkareng–Jeddah lanjut 5 jam bus Jeddah–Madinah. Tentu agak lelah bagi yang fisiknya kurang siap apalagi usia lanjut.

Kurang siap yang saya maksud adalah kurang latihan jalan dalam jarak lumayan jauh dan waktu yang lama. Saya dan istri rutin jalan (anggap-anggap tawaf) keliling komplek perumahan Samesta. Semakin dekat jadual keberangkatan, kami gas pol 7 kali keliling agar sama seperti tawaf keliling Kakbah dalam arti sebenarnya.

Saya termasuk paling sehat di rombongan keluarga, itu barangkali hikmah dari donor darah yang saya lakukan sebelumnya. Wallahu ‘alam. Mengingat hal itu, maka senyampang kondisi saya sedang sehat, saya putuskan untuk donor lagi saja. Setelah melahap habis mie ayam, saya bergegas ke masjid Al-Anshor untuk donor darah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...