Langsung ke konten utama

Belangiran

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, di Lampung ada tradisi belangiran (turun mandi) di kali Akar, Batuputu, Telukbetung Barat. Di masa Gubernur Lampung, Drs. H. Sjachroedin Z.P., dijadikan ritual sakral kental nuansa adat budaya.

Nuansa adat budaya di sini, maksudnya ada unsur budaya leluhur dalam pelaksanaannya, yaitu ada air langir (ialah campuran air dari tujuh mata air), ada kembang tujuh rupa, ada setanggi, dan daun pandan. Itulah kelengkapan belangiran tradisi para leluhur.

Rycko Menoza SZP, ketua harian DPP Lampung Sai, pada acara belangiran di kolam renang Pahoman, 25/2/2025. | rri.co |

Kendati masih dipelihara sebagai tradisi menyambut Ramadan, belangiran pernah deh berpindah-pindah tempat penyelenggaraannya. Tahun 2023 bukan di kali Akar, melainkan di Boemi Kedaton Resort, zona wisata milik keluarga Sjachroedin Z.P. di Batuputu.

Tahun 2025, belangiran diadakan di kolam renang Pahoman karena kali Akar banjir. Ditaja oleh Majlis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) dan didukung DPP Lampung Sai. Diawali parade pawai budaya, ditutup dengan penampilan Tari Katipung Asalan. 

Di Jawa, tradisi seperti itu disebut nyadran, masih lestari sebagai budaya yang diopeni (dipelihara) turun temurun. Ada yang menyebut padusan atau kuramasan. Minangkabau disebut mandi balimau, karena ada campuran jeruk nipis dan wewangian.

Hal demikian bukan ajaran agama Islam, melainkan hanya tradisi yang diopeni atau dirawat dan diruwat. Yang lebih umum adalah ruwahan, kumpul berdoa dan makan bersama. Membawa makanan ke surau atau langgar, mengundang tamu dari luar kampung.

Membawa makanan ke surau atau langgar, orang Lampung menyebutnya ngeregah pahar. Ngeregah artinya menurunkan, pahar adalah nampan/talam khusus berbahan kuningan tempat menata nasi dan gulai yang akan disuguhkan untuk acara ruwahan.

Di Krui, Pesisir Barat, Lampung, ada tradisi nyuncun pahar, yaitu membawa pahar dengan menaruhnya di atas kepala (ticuncun). Bisa sendiri-sendiri atau bisa juga berbaris beriringan ramai-ramai sebagai tanda atau perlambang adanya kebersamaan/keguyuban.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...