Langsung ke konten utama

Kembang "Mbingungi"

Jiah, bunga Wijayakusuma yang ditanam di pot gantung teras rumah minimalis kami akhirnya mekar menampakkan kembang putih berseri. Waktu mekarnya kembang yang juga memiliki nama pendek wiku (akronim dari wijayakusuma) ini adalah tengah malam, entah pukul berapa. Mesti betah menunggu.

Banyak video beredar menampakkan detik-detik proses mekarnya kembang wiku. Dalam hati, saya membatin, alangkah iseng serta telatennya orang mengisi waktu menunggu detik-detik mekarnya kembang dengan memposisikan kamera ponsel ke arah putik kembang yang akan mekar perlahan.

Bunga Wijayakusuma mekar tadi malam 

Yang sudah ditanamkan di pot gantung ada dua, satu pot diikatkan di batang pohon kelengkeng, dan satu pot masih di tanah belum dibelikan pot gantungnya, semacam masih dikarantina. Nanti kalau sudah di pot gantung semua dan berkembang barengan, tak terbayang indahnya. Begitu semarak penampakan.

Juga, seumpama kembangnya gak melulu berwarna putih, misalkan berwarna-warni, tentu meriah sekali. Tapi, karena kembangnya cuma putih itulah, maka namanya Bunga Wijayakusuma. Saya kirim fotonya ke kawan, ia menyangka buah naga, ketipu sekilas penampakan. Foto kadang suka bercanda begitu.

Ini wajahnya kemarin, saat belum mekar 

Sekilas memang mirip buah naga, ya! baik kembang maupun sulur daun tempat kembang menempel. Eh, penyebutannya apa sih, untuk sulur tempat kembang buah naga atau kembang wiku ini menempel? Batang bukan, daun juga bukan. Nah, jadi mbingungi kan? Daripada bikin ruwet pikiran, seruput kopi dulu ah...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...