Yang sudah saya singgung di postingan blog ini terdahulu, perihal jantung kota Metro ini di mana? Apakah Masjid Agung Taqwa? Ataukah ada "Titik Nol-nya." Saya sungguh awam karena kendati sudah lebih 25 tahun bermukim di Bandar Lampung, saya belum pernah ke Metro. Agak laen, ya 🙂↕️
Sebagai penambah catatan amal, eh... catatan masjid (di luar safari jumat), Masjid Agung Taqwa sekiranya layak juga ditulis. Saya masuk masjid ini Rabu pagi untuk mendirikan salat dhuha yang diawali tahyatul masjid. Hendak ke masjid saat subuh, masih hujan ricih-ricih. Apadaya jemaah subuh tak kesampaian.
![]() |
| Foto Selasa (3/2) siang saat ngaso baru tiba |
Masjid yang struktur bangunannya bulat ini sangat luas. Air wudu melimpah, kamar kecil tempat buang hajat tentu juga representatif (saya tidak sempatkan melongok ke ruang privat itu). Karpet merah marun sudah terbilang lama, sudah terlihat belang-belang ada perubahan warna dan aroma tanda telah tua.
Waktu saya masuk hendak mendirikan salat dhuha, ada satu orang sedang berzikir di shaf depan. Pada barisan karpet bagian belakang ada beberapa orang tidur, mungkin musafir dari luar kota. Kendati ada tulisan "dilarang tidur di dalam masjid" nyatanya masih ada toleransi asal di pinggir bagian belakang.
![]() |
| Foto Rabu (4/2) pagi sesuai salat dhuha |
Seorang pekerja perawat masjid sedang menyedot debu karpet dan lantai selasar masjid masih basah bekas dipel. Kaca pintu masuk juga dilapnya dengan cairan pembersih kaca agar jadi bening. Perawatan masjid ini cukup terjaga dan terkontrol. Harusnya begitu, demi menjaga marwah nama "Agung-nya".


Komentar
Posting Komentar