Langsung ke konten utama

Postingan

Tak Berdaya Segalanya

Di sebelah kiri jalan samping flyover ini rumah makan pindang mranjat yang lemak nian . Sandera mati lampu sejak pukul 10 semalam hingga sore ini tadi sungguh membagongkan. Rumah tangga yang air baku dari sumur bor mati lampu gini   jetpump nggak bisa bekerja. Lebih dari 12 jam tanpa pasokan daya listrik membuat ponsel lowbatt karena nggak bisa nge- charges . Untung tadi bakda zuhur bisa nge- charges di rumah makan pindang flyover . Pindang Mranjat mengalihkan keruwetan lantaran lemak nian . Ruwet oleh mati lampu sejak semalam hingga siang bahkan sore hari ini bikin banyak orang tak berdaya segalanya. Sebagian orang tak berdaya oleh ketakpastian sampai kapan mati lampu, informasi simpang siur. Jetpump tak berdaya, ponsel tak berdaya, kompor tak berdaya karena elpiji langka. Pasokan listrik di Way Halim hidup dari pukul 13:45 kemudian mati lagi pukul 17:35 kami urungkan niat  kongkow malam ini, saya dan istri pulang tiba di rumah pas azan magrib. Alhamdulillah...

Kota, Hujan, dan Gerutu

Lilin ini menunggu lampu menyala, laptop menunggu saya merakit tulisan untuk post-blog ini. “Sehubungan dengan gangguan transmisi SUTT 275kV Lubuk Linggau – Lahat sehingga berdampak pada sistem kelistrikan di Wilayah kerja Provinsi Lampung.” Demikian maklumat PLN UID LAMPUNG mohon dimaklumi. Alhasil kota gelap gulita dari siang hingga sore. Gerutu berhamburan ke udara yang pengap karena AC dan kipas angin berhenti bekerja. Beruntung hujan datang melerai pertikaian gerutu dan kesabaran menerima kenyataan. Ada sebagian wilayah kota barangkali tetap panas karena hujan tak sudi mendinginkan cuaca. Ada sebagian wilayah kota lampu menyala pukul 17, di sebagian wilayah kota lainnya disuruh bersabar barang sebentar. Toko camilan yang gelap gulita Di perumahan kami habis Isya lampu nyala. Di rembang magrib saya sempat mencari lilin di Indo Alfa, kosong. “Habis diborong, Pak,” kata kasir. Banyak yang termakan isu takut PLN benar-benar karam sampai tiga hari ke depan. Tadi siang saat saya d...

Jejak yang Tertinggal

Jejak yang tertinggal jaringan operator hotel "Airy rooms" yang sudah tidak beroperasi. Banyak jejak yang tertinggal di masa saya di Jogja 1980—1990 coba saya telusuri ulang untuk menemukan déjà vu . Tidak semua, hanya sebagian. Yang terutama tentu selasar Teras Malioboro, di sana dahulu ada warung tenda “Soto Indra” karena yang sekarang Teras Malioboro itu dahulu gedung bioskop Indra. Saya pernah secara intensif saban plesir ke Jl. Malioboro tiap hari  “ Minggu nan Biru ”  mesti dong singgah menikmati semangkuk soto dan segelas es teh manis di tenda itu. Akibatnya si penjual soto hapal dengan wajah saya. Ketika hijrah kuliah ke Malang tahun  ’ 86— ’ 88 tentu wajah saya hilang dari ingatan si penjual. Kembali stay di Jogja 1989—1990 karena bantu ngeberesin skripsi adik sepupu, bisa plesiran di Malioboro. Agak menggelikan, kami bareng masuk kuliah di tahun 1983, setelah lulus D3 tahun 1986 saya lanjut S1 di Malang selesai 1988, eh 1989 ia masih berkutat dengan skrip...

Buah Mengotori Jalan

Buah yang tak kukenal apa namanya. Sekilas apabila dibelah, biji di dalamnya mirip sekali dengan buah tin, tetapi ini bukan buah tin. Lalu, buah apakah ini? Waduh, agak susah mencari jawabannya. Pohon ini tumbuh di depan rumah di Jl. Jambrut, Kel. Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat. Belum pada matang buahnya sudah berguguran mengotori jalan. Petugas yang biasa membersihkan jalan sedang libur hari Minggu sehingga buah yang mengotori jalan itu, besok Senin baru disapu oleh petugas kebersihan. Penampakan pohonnya Di sekujur jalan Jambrut ini hampir semua bangunan merupakan perkantoran, gedung Pegadaian yang jangkung terlihat menjulang bagai menggapai langit. Ada 2 gereja, ada hotel Jambrut Inn, ada kafe dan rumah indekos premium yang representatif karena dekat ke perkatoran atau ke kampus UI Jl. Salemba Raya. Di sebelah belakang Jl. Jambrut adalah Jl. Raden Saleh, tempat gedung PBNU dan Klinik Raden Saleh. Keluar dari Jl. Jambrut langsung ke Jl. Kramat Raya. Buahnya mirip buah tin, te...

Daya Pukau Jakarta

Beginilah penampakan polusi udara di langit Jakarta (saya potret dari lantai 6 Swiss-belinn Hotel). "Berangkat pagi ketiban macet, berangkat agak siang ketimpa panas. Pulang cepat kejebak macet, pulang agak malam kelewat capai." Begitulah para penglaju di Jakarta. Serbasalah kan jadinya. Terus bagaimana? Anak sekolah pun sama, dibelit persoalan ruang dan waktu. Yang sekolahnya jauh dari tempat tinggal harus pagi buta berangkat dan sudah gelap malam baru pulang ke rumah dalam balutan lelah, tentunya. Yang miris, orang tua muda (penglaju) dari botabek meninggalkan rumah menuju kantor di Jakarta saat anak-anak mereka masih dibuai mimpi dan pulang kerja ketika anak-anak mereka sudah bobo  kembali. Pagi tadi, saya akhirnya melihat sendiri warna langit Jakarta abu-abu diselubungi polusi kiriman PLTU yang mengepung Jakarta. Sekilas tak jauh beda dengan kabut embun pagi yang suatu waktu terjadi di BKP. Betapa tidak signifikannya menjadi warga Jakarta. Sepintas terdengar keren. Padaha...

Argo Cheribon Pagi

Kereta Argo Cheribon berangkat dari Jatibarang pukul 07:17 dan tiba di Gambir pukul 09:37. Kereta yang nyaman sehingga meski kelas ekonomi, tapi karena ada kelas eksekutif juga jadi perjalanan tepat waktu, maka para calon penumpang harus on time  agar tidak ketinggalan. Karena check in hotel baru bisa pukul 13:00 sementara perjalan Grab Car hanya 20 menitan termasuk macet dan kecegat di lampu merah, maka sebaiknya nunggu dulu di Gambir sambil cari sarapan. Wajah Jakarta senja hari di luar jendela hotel. Di- booking -in hotel oleh adek dekat Sarinah. Swiss-belHotel atau Swiss-bel Inn. Setelah check in salat lalu tidur hingga senja. Pulang kerja adek ke hotel, habis Isya kami ke Sarinah, cukup jalan kaki karena dekat. Ada live music menampilkan Nyoman Paul Fernando alias Paul Idol, penonton membeludak, maklum ini kan  weekend  pulang kerja para worker nggak  langsung balik ke rumah, kongko dulu sama genk. Ada yang ngemal, kan pekan lalu gaji dah masuk rekenin...

Merehab Makam Kakak

Cungkup makam bagian kepala sudah patah, tinggal yang di bagian kaki yang masih utuh. Melewati jembatan "Vina" Talun kemarin, selain untuk wisata kuliner, juga untuk ziarah ke almarhum kakak yang makamnya di bagian belakang terminal Cirebon. Karena dah lama tidak ditiliki, sempat mutar-mutar di seluasnya pemakaman mencari di mana keberadaan makam. Kata abang di dekatnya ada tanaman petai. Setelah ketemu, cungkup makam di bagian kepala sudah patah, hanya sisa di bagian kaki, tapi beruntung namanya di semen makam terbaca samar-samar. Tanaman petai sudah  gak ada ganti pohon ketapang. Artinya, masih ada pohon peneduh pelindung terpaan panas saat ziarah. Cirebon kan suhunya panas, Bro. Nama dibentuk dari pecahan keramik ditempelkan di semen makam bagian kaki. Meski hampir semuanya terlepas, tapi masih membentuk ukiran namanya. Kami sepakat untuk merehab kijing makam dengan menyerahkan pembuatan kepada pengelola makam. "Biayanya duajut," kata bapak yang bernama Aan itu...