Langsung ke konten utama

Postingan

Masker dan Kondom

ilustrasi orang mengenakan masker merah putih (foto: google) Selama ini, WHO meyakini bahwa virus corona menular melalui  droplet atau cipratan dari orang yang bersin atau batuk, dan belum melalui udara atau airborne . WHO bersikukuh pada keyakinannya tersebut. WHO beranggapan droplet tidak terlalu lama berada di udara, tetapi langsung jatuh ke permukaan tanah atau menempel ke benda yang beredekatan dengan sumber cipratan. Oleh sebab itu, imbauan paling utama WHO adalah untuk sering-sering mencuci tangan. Beberapa kelompok peneliti kemudian memberikan bukti bahwa virus corona bisa menular melalui udara. Upaya kelompok peneliti untuk meyakinkan WHO dengan bukti bahwa virus corona dapat disebarkan oleh partikel-partikel kecil yang melayang di udara pun berbuah manis. WHO akhirnya mengakui, bukti-bukti yang disampaikan para peneliti tak bisa  dikesampingkan.  Perubahan paradigm WHO ini akan lebih menyelaraskan protokol kesehatan. Sebelum ini WHO masih menyangkal bukti-bu...

”Konser di Surga”

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seseorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. [Q.S. Al-Anbiyaa’ (21) : 34-35] تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ Maha suci Allah yang di Tangan-Nya lah segala Kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi...

#MaturNuwunGustiAllah

Ardha Krisna Putra bersama Lord Didi Kempot (credit foto: jateng.idntimes.com) Dalam acara ’Rosi’ di Kompas TV, Kamis (7/5/2020), spesial even Tribut to Didi Kempot Godfather of Broken Heart, untuk mengenang Didi Kempot, Rosi Silalahi mengungkap bahwa konser amal #darirumah bertajuk Tresno Ambyar di Kompas TV dalam aksi menggalang dana untuk Covid-19, Sabtu (11/4/2020), direncanakan begitu mendadak. Blontank Poer, sahabat Didi Kempot menghubungi Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV pada Kamis (9/4/2020), mewakili Didi Kempot menyampaikan niat Didi Kempot untuk menggelar konser amal tersebut. Dengan persiapan yang mendadak, disettinglah acara itu untuk disiarkan langsung #darirumah Didi Kempot di Solo. Dan disepakatilah waktunya pada tanggal 11 April itu. Meski begitu mendadak, namun konser amal itu berhasil mengumpulkan sumbangan Rp7,6 M lebih. Dalam waktu 3 jam terkumpul Rp5 M, kemudian diperpanjang 1 jam dan ternyata mencapai Rp7,6 M. Karena merasa konsernya #darirumah itu cuku...

Sekali Berarti Sesudah itu Mati

Didi Kempot berkolaborasi dengan Ardha Krisna Pratama di konser amal bertajuk #darirumah untuk penggalangan dana untuk warga terdampak Covid-19 di Kompas TV Penyair Chairil Anwar sepertinya sudah mendapat firasat kalau tak akan berumur panjang. Karenanya, dalam puisinya berjudul  ’Maju’  ia menulis ”sekali berarti sesudah itu mati.” Frase itu sangat terkenal sehingga diartikan sebagai tabir pelindung bagi Chairil Anwar terhadap firasat kematiannya. Judul tulisan ini saya pinjam dari bait kedua puisi ”Si Binatang Jalang” Chairil Anwar itu. Puisi itu ia ciptakan sebagai pengobar semangat para pejuang kemerdekaan mengusir penjajah dari Tanah Air. Tetapi, relevansi puisi di era perjuangan itu tetap terasa hingga di era post truth sekarang ini. Soe Hok Gie pernah bilang, ”Seorang filsuf Yunani pernah menulis; nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah merek...

Di Lepau itu Cinta Jadi Misteri

LEPAU ~ tipikal rumah panggung yang memiliki lepau (beranda) panjang, banyak ditemukan di perdesaan atau wilayah pesisir Pulau Sumatera (Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan)  sumber gambar  : romadecade.org Cerpen Oleh: Zabidi Yakub Di lepau rumah panggung itu, dengan desah napas yang panjang, kamu berujar:  ” Indonesia memang luas. ”  ”Oh, tentu,” jawabku kala itu. Kamu yang lahir dan besar di Bantul, kota kecil bagian selatan Yogyakarta. Aku tahu tentang kotamu itu, setidaknya tentang makanan khasnya, geplak . Yang rasa manisnya nyelekit , yang karena ada campuran kelapa, jadinya tidak tahan lama, tapi banyak juga yang menjadikannya sebagai oleh-oleh bagi sanak famili di rumah bila habis berkunjung ke Yogya. Walaupun toh sesampai di rumah saat dimakan akan terasa sedikit tengik, ujungnya ya habis juga karena justru di situlah letak khasnya. Aku tahu makna desah napasmu yang panjang kala itu, karena tak pernah tebersit di pikiranmu kalau akhirn...

Neroli

matahari mengawasi dari kejauhan, hangatnya menjalari tubuh penumpang di geladak kapal (foto: koleksi pribadi) Cerpen Oleh: Zabidi Yakub Bukan tanpa pertimbangan namanya cocok dijadikan tokoh dalam cerita ini. Di masa kecilnya, Kakeknya sering menghidukan wewangian ke hidungnya. Wewangian yang biasa dipakai Kakeknya setiap akan salat Jumat, di antaranya Magnolia , Citrus , Woody , Oceanic , dan Gourmand . Dari semua itu, yang paling disukainya adalah Gourmand , karena beraroma seperti kembang gula. Nama Neroli diambil dari salah satu jenis aromaterapi. Wangi Neroli hampir sama dengan Citrus , karena memang dibuat dari ekstrak bunga pohon jeruk. Manfaat wewangian ini, di antaranya memiliki efek pada pemulihan keseimbangan homeostatik, memperlancar aliran oksigen ke otak, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan menormalkan kadar hormon neuroendokrin. Neroli, gadis yang tomboi. Pertemanannya dengan Awkrima, Riri, dan Maya, bukanlah faktor kebetulan. Di samping mema...

Pendidikan Karakter yang Terlupakan

Anak belajar Bahasa Inggris (Foto: SehatQ)  ”Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan,  memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.” – Tan Malaka – Pendidikan, dari kacamata Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), adalah sebuah upaya untuk menyempurnakan manusia. Secara mendetail, Ki Hadjar Dewantara (dalam Marzuki dan Khanifah, 2016, h.175) mendefinisikan pendidikan sebagai upaya ”menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan serta kebahagiaan yang setingi-tingginya.” Kebahagiaan sebagai Tujuan Pendidikan Pendidikan memang seyogianya berlandaskan pada kebahagiaan dan berorientasi pada pembentukan karakter yang membahagiakan, bukan sebaliknya. Ki Hadjar pun sudah lama menyadari itu. Menurutnya, sistem pendidikan penjajah Belanda yang bersifat perintah, hukuman, serta ketertiban ( regering , tucht , orde ) cenderung merugikan mentalitas, prinsip, dan iden...