Langsung ke konten utama

Postingan

Hijab Sebagai Pembeda

Judul tulisan ini pernah saya pakai untuk tulisan tentang Hari Hijab Sedunia, yang saya posting jadi Catatan di Facebook 1 Februai 2014. Hijab adalah pakaian yang diwajibkan bagi kaum muslimah, sebagaimana disyariatkan dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab (33) : 59 dan An-Nuur (24) : 31. Di sini Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengatakan kepada istri-istri dan anak-anak perempuan mereka, serta orang mukmin lainnya, ”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak diganggu. ” Artinya, jilbab akan menonjolkan identitas kemuslimahan seorang perempuan. Angelina Joli, tampak lebih cantik dengan balutan jilbab Untuk mengenali identitas keislaman seseorang, salah satunya dengan melihat busana yang dia kenakan. Berhijab (menyempurnakan busana dengan jilbab atau kerudung), mudah mencirikan bahwa dia adalah wanita muslimah. Sementara, untuk kaum muslimin biasanya baju koko, peci/kopiah, dan sarun...

Pendidikan dan Budaya

Setelah dua pekan lalu siswa SMA sederajat memungkasi pendidikannya dengan menempuh UN, mulai hari ini giliran pelajar SMP yang menempuh UN. Ada perbedaan mendasar antara UN di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh atau era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan era Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan atau era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). tampak tampilan kolom”Kacamata Zabidi Yakub” di koran LE, 4 Mei 2015 Perbedaan itu, di masa Muh. Nuh, UN sebagai penentu kelulusan siswa, sedang di masa Anies Baswedan kini, UN bukan penentu kelulusan. Di masa itu, kelulusan tertinggi atau 100 persen adalah kebanggaan bagi suatu sekolah. Karena itu ada upaya tertentu yang ditempuh pihak sekolah agar kelulusan 100 persen tercapai. Di antaranya, mengadakan les tambahan bagi siswa yang akan menempuh UN, oleh guru mata pelajaran yang di-UN-kan. Ada juga siswa yang ikut Bimbel di luar. Meski mengadakan les di sekolah itu t...

Bahasa Lampung

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila) akan membuka program studi S-1 Bahasa Lampung tahun 2016 mendatang, dan akan mengakomodasi 40 mahasiswa untuk angkatan pertama. Dr. Bujang Rahman, M.Si Dekan FKIP Unila Dr. Bujang Rahman, M.Si., mengatakan, pendirian program studi Bahasa Lampung merupakan sebuah upaya pelestarian budaya dan sastra Lampung. Pihaknya akan segera membuka program studi S-1 Bahasa Lampung setelah disetujui Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. “Tujuan awalnya untuk melestarikan kebudayaan Lampung baik dari segi seni, pendidikan, maupun bahasa Lampung yang diharapka dapat menjadi ‘bahasa ibu’ seperti halnya bahasa Jawa di Pulau Jawa dan bahasa Sunda di Jawa Barat. Kalangan pemuda di sana tanpa malu menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan sehari-hari,” ujarnya, Sabtu (21/3). Menurut Bujang, komitmen bersama ini tentu saja menjadi sebuah optimisme dan harapan besar bagi Unila, sebagai satu-satunya universitas negeri di S...

Lampung Kini Berusia 51 Tahun

/1/ PROVINSI Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan. –  ARAK-ARAKAN – Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo dan Wakil Gubernur Lampung Bakhtiar Basri sedang diarak dengan secara Adat Lampung saat akan menghadiri sidang paripurna istimewa HUT ke-51 Provinsi Lampung, Rabu (18/3)  – FOTO LAMPUNG EKSPRES/ARLIYUS_RAHMAN Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adat budaya di Nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada zaman VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda....

Lampura Miliki Wisata Alam

Kabupaten Lampung Utara (Lampura), provinsi Lampung, memiliki banyak objek wisata, baik itu wisata alam, wisata religi, dan wisata buatan. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporbudpar) Lampung Utara, untuk objek wisata alam di antaranya seperti Curup Ateng dan Curup Tapak Kuda yang berada di Bukit Kemuning, Curup Selampung yang berada di Kecamatan Abung Barat, dan Curup Klawas Indah yang berada di Kecamatan Abung Tengah. Air Terjun (Curup) Klawas Indah di Kecamatan Abung Tengah Kepala Disporbudpar, Karim SR melalui Kabid Pariwisata, Paswani Mega,  mengatakan bahwa selain dari wisata alam itu terdapat pula wisata buatan seperti Bendungan Way Rarem, Tirta Shinta, dan Way Tebabeng. ”Untuk wisata religinya kita mempunya tempat yang direncanakan akan masuk dalam cagar budaya di antaranya makam Minak Triodeso yang berada di Kecamatan Kotabumi Utara dan Benteng Majapahit yang berada di Kecamatan Abung Pekurun,” ujar Paswani Mega,...

Tari Sembah Jadi Pembuka

Beberapa waktu lalu, delegasi seni Universitas Lampung (Unila) memperkenalkan berbagai macam kesenian khas Lampung di Amerika Serikat (AS). Mereka tampil di tiga sekolah di negara bagian Kentucky. Inilah salah satu tim tari Sembah, yang berasal dari kelompok PAUD sebagai awal perkembangan tarian Lampung di masa mendatang. (foto: LAMPUNG EKSPRES/HERMAN-AFRIGAL) Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Kerja Sama dan Layanan Internasional (PKLI) Unila Prof Dr Cipta Ginting, dalam kunjungan ke University of Kentucky (UK), Lexington, AS, rombongan mahasiswa program studi (prodi) Sendratasik fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) itu menampilkan seni tari dan seni musik tradisional Lampung. “Tarian yang dibawakan adalah tarian Sigeh Penguten sebagai pembuka, kemudian tari Muli Siger, Kembang Melinting dan Nemui Nyimah. Sedangkan alat musik yang diperkenalkan adalah Gamolan Pekhing dan Talo Balak,” kata Cipta. Selain menampilkan kesenian tradisional Lampung, delegas...

Gedung Kesenian Belum Berfungsi

Gedung Kesenian Lampung yang sudah dibangun sejak tiga tahun lalu, dengan sistem proyek multi years itu sudah terlihat megah dari luar, namun belakangan mulai mengkhawatirkan karena terlihat mandeg dalam penyelesaian, terutama isi dan mebelairnya. Gedung Kesenian Lampung di Komplek PKOR Way Halim, Bandarlampung (foto: LAMPUNG EKSPRES/HERMAN-AFRIGAL) Bahkan belakangan beberapa kacanya sudah pecah dan jendela banyak terbuka dari luar, serta terindikasi sudah dipergunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab bermain petasan di dalam Gedung. Para penggiat seni di Lampung mulai merasa miris dengan kondisi ini. Salah satunya, penggiat tari di Lampung yang tidak bersedia disebutkan jati dirinya, menegaskan bahwa perjuangan untuk mendapatkan persetujuan pembangunan gedung kesenian itu sangat sulit, maka setelah diwujudkan harus bisa segera dimanfaatkan. “Saya cuman denger-denger aja kalau gedung kesenian ini kan sudah selesai, tapi belum ada penyerahan karena belum lengkap. Mebel...