Langsung ke konten utama

Rancage, Continued History

Buku "Singkapan" ikut terpajang sebagai pemenang (foto: rancage.id)

WhatsApp pukul 23.51. Udo Z Karzi mengirim foto cover lima buku di bawah tulisan; Keputusan Hadiah Sastera ”Rancagé” Tahun 2023 disertai caption Selamat yu Mamak (emoji 3 kepalan tangan). Wah, buku Singkapan ikut terpajang di foto itu.

WhatsApp baru saya baca pagi, pukul 06.57. ”Wuy, setemon pai ajo kudo. Minjak pagi injuk jak buhanipi api,” balasku. ”Yaddo,” balasnya pukul 07,48. Diikuti masuknya link rancage.id pengumuman tersebut. Berikut video pembacaan keputusan.

Pikirku ini semacam continued history dari hasil Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung, jadinya. Puisi Sampian yang saya ikutsertakan jadi juara satu. Di luar ekspektasi karena niat awalnya hanya sekadar buat ngeramein hajat DKL itu.

Kalau ternyata puisi Sampian jadi pemenang dan judulnya dijadikan brand name buku antologi puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, merupakan anugerah terindah dan jadi catatan sejarah, bahwa dunia sastra itu indah, cerah, dan akan menyejarah.

Banner peluncuran buku Jalan Sastra Lampung dan Sampian, Gedung DKL, PKOR Bandar Lampung, Jumat (2 Desember 2022). (foto: DKL dan penerbit Pustaka LaBRAK)

Nama Chairil Anwar garansi menyejarah itu. Tidak hanya indah, cerah, dan menyejarah. Nyemplung ke dalam dunia sastra itu baik. Terutama bila produk sastra yang kita ciptakan memiliki nilai tambah bagi kekayaan seni budaya dan utamanya kemanusiaan.

Selain mengayakan seni budaya, produk sastra berbahasa daerah seperti lima buku di atas yang memenangi hadiah Sastera Rancagé, menunjukkan adanya kepedulian terhadap kelestarian bahasa daerah dengan cara membukukannya.

Membukukan produk sastra berbahasa daerah sarat tantangan. Menerbitkannya jauh lebih menantang lagi. Hanya segelintir yang bisa berkhidmat menjalaninya. Sebagai acuan, tahun 2023 ini hanya lima daerah yang ikut dalam penjurian Rancagé.

Kelima daerah yang mengirim karya sastra adalah Sunda (10 judul), Jawa (23 judul), Bali (10 judul), Batak (6 judul), dan Lampung (4 judul). Madura tidak memenuhi syarat karena kurang dari tiga judul. Banjar tidak menghasilkan satu judul pun.

Buku yang diterima Yayasan Kebudayaan Rancage

Melestarikan bahasa daerah dengan membuat karya sastra bergenre apa pun, adalah puncak tertinggi dari sebuah kepedulian. Dan menemukan orang yang peduli tersebut, adalah puncak tertinggi dari sebuah kegembiraan. Bukan ganjaran hadiah apa pun.

Setidaknya kalau setiap tahun ada tiga judul buku sastra Lampung yang terbit, itu upaya minimal mentradisikan setiap tahun ada sastra Lampung yang diganjar hadiah Rancagé. Dengan kata lain, setiap tahun sastra Lampung berkibar.

Jika setiap tahun ada hadiah Rancagé bagi sastra Lampung, maka continued history telah jadi tradisi. Tetapi, tampaknya agak sulit menjadikannya sebuah kepastian. Yang pasti adalah ketidakpastian. Tidak pasti ada buku sastra Lampung yang terbit.

Mengapa tidak pasti? Persoalan muncul ketika ada beban berat mewujudkan upaya minimal tersebut, yaitu besarnya dana yang dibutuhkan dalam menerbitkan buku. Selama ini buku sastra Lampung terbit dengan swadana, dana ditanggung penulis.

Apakah tidak mungkin didanai oleh sponsor? Misalnya, melalui CSR BUMN atau perusahaan swasta. Atau ada tanggung jawab pemerintah daerah melalui dinas kebudayaan yang memiliki akses ke biro perencanaan dan keuangan.

Akses ke sumber dana adalah keniscayaan bagi sebuah kemungkinan. Namun, sejauh ini belum terdengar adanya urun dana baik dari pemda, BUMN maupun perusahaan swasta. Di mana letak kesulitannya? Sulit dijawab! Mungkin.

Terbelit di ruang sulit. Pencipta produk sastra bahasa daerah sulit menemukan pola untuk menembus sponsor. Parapihak yang mestinya memiliki kelebihan dana kadang tidak berdaya terhadap sulitnya aturan. Semua dibelit sulit.

Sulitnya aturan seperti prorotokoler dan SOP yang biasa berlaku di pemerintah maupun swasta, membuat pencari sponsor males dan mules duluan. Benturan antara sulitnya akses dan sulitnya aturan ini yang menghambat kemajuan.

Jika demikian, jangankan maju, sekadar lempeng saja sulit. Padahal, itu lebih dari cukup untuk menjaga tradisi sastra Lampung berkibar. Salut, Yayasan Kebudayaan Rancagé selama ini melempengkan kibaran sejarah sastra (beberapa) daerah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...