Tidak kerap melewati jalan ini, hanya bila armada yang kami tumpangi akan masuk pintu tol mesti lewat depan lamban gedung kuning ini. Itu waktu hendak mengarah ke Bakauheni. Begitupun sebaliknya, saat mengarah pulang, lewat jalan di sisi sebelahnya.
Tadi pagi-pagi sekali, saya bonceng istri menuju lamban gedung kuning yang jadi melting pot keberangkatan mereka jalan-jalan ke Dieng, Jogja, dan Solo. Santai melalui jalan Soekarno-Hatta (bypass) yang karena masih pagi belum terlalu ramai apalagi macet.
![]() |
| Lamban Gedung Kuning kerajaan Sekala Berak |
Badanku yang habis 'digempur' tipes berangsur sehat. Makan tidak lagi dengan bubur, tapi sudah dengan nasi yang dimasak-lembutkan. Dibanyakkan air saat ngaron-nya lalu dikukus lagi di langseng selama seperempat jam baru dipindahkan ke dalam magic com.
Setelah Tour Sumatera dan Tour Lombok, kini mereka Tour Dieng. Pada dua tour sebelumnya, ada beberapa bapak yang mendampingi. Kali ini semuanya ibu-ibu. Sepertinya para pensiunan. Sebab, bila masih aktif bekerja, harus izin atau cuti, padahal baru saja habis lebaran.
Nah, senyampang melting pot di lamban gedung kuning, saya sempatkan foto di tembok lamban yang dilapisi banner lebar dengan foto raja sekalberak berikut narasi tentang betapa tuanya kitab kuntara raja niti yang memuat hukum adat sebelum ada hukum buatan Belanda.

Komentar
Posting Komentar