Langsung ke konten utama

Postingan

Menghidupkan Gairah

Ilustrasi gambar milik Motivasi Islam Setelah Sritex dipailitkan dan nasib sepuluh ribu lebih buruh yang di-PHK ramai menjadi perbincangan, pemerintah d/h Kementerian Tenaga Kerja mengeluarkan pernyataan, bahwa akan ada operator atau dalam kata lain investor kembali menghidupkan “nyawa” pabrik tekstil yang “dibunuh” pemerintah melalui keputusan Pengadilan Niaga Semarang yang dikuatkan Keputusan Mahkamah Agung. Kok, terkesan Sritex “dijual” seperti yang pernah terjadi pada PT Indosat pada era Presiden Megawati dahulu. Bagaimana ceritanya akan ada perekrutan buruh baru untuk dipekerjakan di Sritex yang akan dihidupkan oleh operator lain selain pemilik perusahaan yang merupakan pewaris yang sah. Pemerintah menyatakan ada kurator yang akan menilai. Kok kayak pameran lukisan saja, mesti dikurasi terlebih dahulu oleh kurator. Jika betul Sritex akan kembali diberi “nyawa” oleh pemerintah, maka itu kabar baik bagi buruh yang dirumahkan. Gairah bekerja mereka kembali hidup. Memang tanggung jawa...

Rasa Oplosan

sebagai ilustrasi gambar Nella Kharisma penyanyi lagu oplosan saja. (image source: Apple Music) Mahkamah Agung RI memperkuat putusan Pengadilan Niaga Semarang yang menyatakan PT Sri Rejeki Isman (Sritex) beserta tiga entitas afiliasinya (partner Sritex Grup) yaitu PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya dinyatakan berada dalam kondisi pailit. 10.965 karyawannya terkena PHK Masal. Dengan muka sedih mereka meninggalkan pabrik tekstil di Kabupaten Sukoharjo itu, untuk pulang kampung bagi perantau dan ke seputaran Solo, Sukoharjo, Kartosuro yang terdekat. Hapus sudah nama pabrik tekstil legendaris itu dari ingatan massa. Apa yang dirasa karyawan yang terkena PHK? Campur aduk seperti Pertamax dan Pertalite yang dioplos. Rasa oplosan antara bersukacita atas datangnya bulan suci Ramadan dan kehilangan pekerjaan berbaur menjadi satu. Rasa antara gembira dan sedih. Terlepas dari qodarullah , itu ujian berat. Gembira dengan datangnya bulan Ramadan dimaknai se...

Sri Rejeki

Kantor PT Sri Rejeki Tekstil (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah. (foto dari situs web wikipedia sritex) PT Sri Rejeki Isman Tbk, begitulah nama pabrik tekstil di Sukoharjo, Jawa Tengah yang per 1 Maret kemarin menghentikan kegiatan usaha karena dinyatakan pailit. Sepuluh ribu lebih karyawannya di-PHK dan kehilangan sumber rezeki. Tragedi awal Ramadan yang sangat memilukan. Hilangnya sumber rezeki (rejeki) karyawan, kontradiktif dengan nama perusahaan yang selama ini menaungi mereka. Kering sudah mata air sumber nafkah bagi keluarga. Semoga tidak berganti jadi air mata yang mengucur deras atau mungkin hanya menggenang di pelupuk mata. Pabrik tekstil yang diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1992 itu tidak bisa melanjutkan kegiatan usaha, setelah Mahkamah Agung memperkuat putusan Pengadilan Niaga Semarang yang menyatakan Sritex beserta tiga entitas afiliasinya dinyatakan berada dalam kondisi pailit. Tiga entitas usaha tekstil di bawah grup Sritex adalah PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitra...

ODOJ dan Political Will

Political Will, Quote Al Gore (image source: QuoteFancy) Tidak hanya dalam politik saja dibutuhkan political will . Dalam masalah ODOJ ( one day one juz ), yaitu setor bacaan satu hari satu juz Alquran yang ada di WhatsApp Grup (WAG) juga butuh. Begitu narasi yang saya lempar ke WAG HuManIs (HMI Komisariat AMP YKPN). Untuk mencari 30 orang dari 75 anggota yang ada untuk ikutan ODOJ susah sekali. Hingga setoran dimulai hari pertama Ramadan ini hanya 25 orang yang mengisi list kesediaan ikut serta. Itu pun saya dan Uddah mengampu 2 juz per hari. Dalam hati membatin, mengapa kok tidak ada yang tertarik menangguk pahala dari setiap huruf Alquran diganjar pahala oleh Allah SWT berlipat menjadi sembnilan kali bahkan hingga tujuh ratus bulir. Butuh political will . Menurut Brinkerhoff, ini melibatkan usaha yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, political will berkaitan dengan keinginan dan tindakan nyata dari pemimpin politik untuk menjalankan kebijakan yang...

One Day One Juz

Ilustrasi ODOJ, image source: Bukukita.com Sya’ban telah sampai stasiun tujuan, selanjutnya pintu Ramadan dibuka. Orang-orang yang beriman dipersilakan masuk ke dalam gerbong siyam berangkat menuju tangga makrifat paling tinggi, derajat takwa sebagai buah manis ritual puasa yang diwajibkan pada orang beriman. Aroma Ramadan kian mewangi. Oke, kita sepakati kalau memang begitu narasinya. Tapi, saya lebih suka menyebutnya “Gema Ramadan” karena pada hari-hari sepanjang bulan Ramadan sejak subuh hingga subuh lagi, lantunan ayat-ayat Alquran menggema di mana-mana. Tidak harus di masjid, di rumah-rumah tangga dengan berbagai status dan strata sosial, ada saja bibir-bibir yang kering karena menhana haus dan lapar, dibasahi dengan lantunan ayat suci. Ada yang sekadar baca, ada yang memang pakai target  one day one juz , satu bulan khatam. Saya pribadi, seperti yang sudah-sudah, satu bula Ramadan mampu khatam Alquran satu setengah kali. Artinya, pertengahan atau dua per tiga Ramadan khatam k...

Ramadan dan AI

Celerates.id melalui kanal IG mereka mengajak ngabuburIT RamAI Ramadan with AI Aroma Ramadan kian mewangi. Teman-teman di grup sastra pada menarasikan 'aroma' berkait akan tibanya bulan puasa tahun 1446 hijriah ini. Saya kok lebih tertarik menarasikan 'gema' ketimbang 'aroma' karena di bulan Ramadan bukankah semarak dengan gema zikir, tadarus Alquran, dan dentum meriam bambu. Pada masa kanak-kanak saya, bermain meriam bambu di bulan Ramadan adalah salah satu cara mengisii waktu agar rasa lapar bisa 'dikibuli' dan tahan berpuasa hingga magrib tiba, saatnya berbuka. Apakah saat ini meriam bambu masih dipermainkan anak-anak di kampung? Entahlah. Yang pasti bermain hape lebih disukai. Ramadan di era kecerdasan buatan atau AI ( artificial intellegencia ), beragam cara bisa dilakukan. Menulis puisi misalnya, sudah banyak teman-teman yang memberdayakan AI. Lah, saya kok lebih memilih tetap setia menggunakan kemampuan otak kanan menjemput ide, mencari metafora ...

Ruwahan, Akar Budaya

Ilustrasi, ruwahan di masjid (Pemprov Kepulauan Bangka Belitung)  Setelah tujuh malam berturut-turut tahlilan –(tadi malam nujuh-hari ), berakhir sudah ritual takziah dalam konteks tetangga menghibur sahibul musibah dan sahibul musibah bersedekah dengan menyiapkan suguhan air mineral dan kue jajana pasar dalam kotak kue. Senin malam karena hujan tak bersahabat, saya dan istri tidak berangkat. Alasan lain di samping hujan, saya ada undangan di rumah ketua takmir masjid. Beliau sekeluarga mengirim doa kepada almarhum/mah orang tua sekalian ruwahan menyambut puasa. Ruwahan, sebuah tradisi yang mengakar dalam kehidupan warga perdesaan. Di kota bersalin wajah menjadi doa bersama di masjid dengan membawa nasi kotak atau besek. Di masjid kami, ada semacam ‘kewajiban’ tiap rumah membawa dua nasi kotak atau besek. Setelah doa bersama ‘diaminkan’ nasi kotak atau besek dibagikan kepada jemaah yang hadir. Terjadi pertukaran saling silang nasi kotak atau besek yang dibawa tadi. Ada yang ...