“Lama
berjalan banyak dilihat”, seperti itu yang sohor sebagai aforisme. Pagi tadi sengaja saya
chat kawan, tetangga se-RT, dan juga sesama jemaah salat. Saya mengajaknya jalan pagi bareng. Sudah lama kami tak
jalan bareng. Seringnya sendiri-sendiri. Kangen pengin dengar cerita darinya. Dahulu pernah jalan bareng,
banyak cerita saya dengar darinya. Tadi pun banyak cerita tumpah dari mulutnya.
Macam-macam, warna warni, pahit getir.
Padahal,
putaran komplek perumahan BKP yang kami jelajah dan kelilingi lebih jauh dari
yang biasanya saya tempuh sendiri, tapi rasanya masih saja kurang jauh buat menghabiskan cerita. Sampai
perempatan jalan yang memisahkan arah ke rumah masing-masing, belum tuntas apa
yang kami obrolkan, saking banyak apa pun yang ia ceritakan. Terpaksa berhenti dahulu di perempatan itu,
melanjutkan obrolan sampai habis.
![]() |
| Ilustrasinya ini saja, matahari yang beranjak meninggi saat kami berdua mulai jalan |
Terungkap
apa yang jadi tanda tanya saya. Salah seorang jemaah masjid sudah lama tidak kelihatan
atau hadir ke masjid salat berjemaah. Rupanya sedang “sekolah” kata kawan itu.
Ya, sekolah diapit tanda kutip karena maknanya bukan seperti yang dimengerti
oleh umum sebagai tempat belajar, melainkan sekolah tempat dikarantina karena tersangkut masalah hukum.
Masuk
bui karena membunuh menghilangkan nyawa orang dengan alasan membela (harga)
diri, itu yang namanya bani dan saya masih menaruh respek. Tapi, kalau masuk bui
karena narkoba atau menggelapkan duit perusahaan tempat diri mendapat status
sebagai “karyawan swasta” itu sungguh sebuah tindakan amat bodoh. Kalau ketahuan Prabowo, dibilangin goblok lo.
Nah, jemaah masjid yang ngilang itu masuk dalam kategori kedua, menggelapkan duit perusahaan. Dari karyawan biasa terus yang paling berhasil, membuat ia jadi manajer. Posisi yang bagus itu, sayangnya, olehnya disalahgunakan. Ia gelapkan duit perusahaan hingga 1,2 M bukan buat beli apa yang ia inginkan, melainkan buat judi online. Kesandung kasus, “sekolah” deh doi.
Balik maning ke aforisme di atas, di samping banyak dilihat, jauh berjalannya kami berdua teman, tetangga, sesama jemaah salat di masjid, itu banyak cerita yang saya dengar darinya. Jadi ada dua hal sekaligus saya dapatkan. Ya melihat, ya mendengar. Kami menyusuri jalan samping tembok tinggi SMA 14 dan cluster Springhill yang membatasinya dengan Perum BKP.

Komentar
Posting Komentar