Langsung ke konten utama

Orang Bijak Taat Pajak

Warga Dusun Gelimbung, Desa Bandar Agung, Lampung Timur sempat viral gak mau bayar pajak kendaraan bermotor. Apa yang mereka lakukan, ada benarnya, tapi ada salahnya. Benar dari sisi kompaknya, tapi salah dari sisi ketaatan. Kompak dalam hal kebaikan, itu inspiratif. Kompak dalam hal tidak mau bayar pajak, itu kontradiktif juga negatif.

Mengapa warga Lampung Timur sampai gak mau bayar pajak dan dilakukan secara kompak? Tentu ada sebab dan alasan yang masuk akal. Warga kecewa di daerahnya jalan rusak parah. Bukankah pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah dibiayai oleh APBN dan pajak yang dipungut dari rakyat, salah satu sumbernya. Gunanya untuk kesejahteraan rakyat.

Barisan orang-orang bijak 

Dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan lain-lain, acapklali terjadi mark up anggaran yang dipicu oleh hasrat untuk melakukan korupsi. Korupsi terhadap pajak yang dibayar rakyat, itu yang kemudian menjadi bandul mendorong munculnya fenomena kompaknya masyarakat dengan aksi boikot gak mau bayar pajak.

Pagi ini saya kembali ke Samsat untuk bayar pajak motor tua kami yang sudah dialihkan kepemilikannya secara jual beli, tapi nama di STNK dan BPKB masih atas nama istri. Si pemilik baru, adalah Kakak sendiri. Jadi di tangan saya masih dibebankan tugas dan tanggung jawab membayarkan pajaknya di Samsat.

Keringanan pajak hingga 31 Oktober 2026

Sebenarnya tanggal jatuh tempo pajak yang tertera di STNK adalah 5 Oktober, tapi baru dibayar hari ini (14 Oktober), berarti telat lebih semingguan. Mestinya ada denda yang kudu dibayar, tapi hingga 31 Oktober 2026 ada keringanan yang diberlakukan Dispenda Provinsi Lampung. Nah, begitu dong, pemerintah juga ikut bijak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...