Kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia sudah ditegaskan Allah SWT dalam Firman-Nya pada Q.S. Ar-Rum 41. Dalam dunia nyata, ulah tangan manusia, itu merujuk pada rusaknya keseimbangan ekologis yang timbul akibat eksploitasi, pencemaran, dan kesengajaan manusia mencakar bumi.
Fenomena rusaknya alam dan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kasat mata ditampakkan oleh cahaya matahari yang merah karena langit diselidungi debu. Kemarau dan karhutla seperti saudara kembar yang datang bersamaan bersilaturahmi kepada manusia dengan membawa oleh-oleh.
Saudara kembar bencana saat musim kemarau adalah karhutla. Sedangkan saat musim hujan adalah banjir bandang dan kayu gelondongan. Celakanya, itu tidak berdiri sendiri. Banjir bandang yang mengirim kayu gelondongan, itu buah dari penggundulan hutan dengan menebang kayu secara ugal-ugalan.
Paparan asap dan partikel debu yang mengancam nyawa, itulah oleh-oleh yang dibawa karhutla. Genangan air berlumpur dan tumpukan sampah kayu dan ranting, itulah oleh-oleh bawaan banjir bandang dan kayu gelondongan yang dihanyutkannya. Begitulah yang saya maksud dengan judul postingan kali ini.
Komentar
Posting Komentar