Langsung ke konten utama

Ngerukuni Tetangga

Memang betul, tujuan seseorang dirawat di RS itu agar pengobatan efektif karena di bawah pengawasan dokter dan perawat. Itu kesatu. Kedua agar beristirahat dengan cukup tanpa dirusuhi tetangga. Tapi, dalam hidup bertetangga itu ada hukum tidak tertulis. Yaitu saling ngerukuni (merawat atau menjaga), baik dan damai (tidak bertengkar), bersatu dalam kehidupan sosial atau masyarakat. Semua itu berhulu pada kata rukun. Dilekatkan pada nama lembaga kemasyarakatan terkecil (RT).

Karena kehidupan sosial masyarakat Indonesia itu penuh toleransi dan menjunjung nilai-nilai gotong royong dan keguyuban, maka menjenguk orang sakit (di RS atau di rumah) adalah pengejawantahan atau manifestasi dari sikap peduli, simpati, dan empati. Dan, termasuk salah satu ibadah ghairu mahdhah yang dianjurkan bagi umat muslim karena ada ganjaran pahala bagi yang melakukannya. Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa khusus berikut tuntutan menjenguk orang sakit.

Dalam kitab Lubbabul Hadis bab ke tigapuluh enam, imam As-Suyuthi menuliskan hadis-hadis tentang keutamaan menjenguk orang sakit yang perlu kita perhatikan. Nabi Muhammad Saw bersabda; "Jenguklah orang sakit dan iringilah jenazah, maka hal itu akan mengingatkan kalian pada akhirat (keadaannya dan kengeriannya)." Hadis ini diriwayatkan imam Ahmad, imam Ibnu Hibban dan imam Al-Baihaqi dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri.

Menjenguk orang sakit, seperti dianjurkan Nabi Muhammad Saw, memiliki beberapa manfaat. Yaitu, menghibur dan mendoakan yang sakit agar berbesar hati dalam menghadapi ujian sakit itu. Menghibur dan menguatkan keluarga (orang tua) yang sakit agar sabar dalam menjaga dan merawat (anak) yang sakit. Atau sebaliknya, apabila yang sakit orang tua, maka itu yang didoakan dan anak-anaknya yang dihibur dan dikuatkan dalam menerima dan menghadapi ujian.

Di balik anjuran dan kegunaan menjenguk orang sakit, ada orang agak nyeleneh sikapnya. Tidak boleh memberi tahukan kepada siapa-siapa kalau dirinya dirawat di RS. Mungkin tujuannya agar dirinya bisa beristirahat total, tidak dirusuhi kolega atau tetangga yang menjenguk. Dalam hal ini, maka tujuan seseorang dirawat di RS, seperti yang mengemuka di pembukaan tulisan ini, sangat benar adanya. Tapi, dalam kehidupan sosial dan ngerukuni tetangga, hal itu menutup pintu doa dan silaturahmi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...