Kendati tidak begitu kerap naik sepur, tapi karena reduksi lansia tiket dari PT KAI, dari segi manfaat untuk mengikis anggaran beli tiket, cukup bermanfaat, maka kami (saya dan istri) memutuskan melakukan registrasi di ruang customer care stasiun Tanjungkarang siang ini. Datang, duduk, tunjukkan KTP dicatat, lalu wajah kita dipotet. Selesai, sesimpel itu. Dijelaskan mbak cs, registrasi reduksi lansia akan aktif setelah 24 jam, berarti besok baru bisa dipergunakan azas manfaatnya dalam pembelian tiket. Kali aja awal bulan depan bakal nyepur Jogja--Jakarta, pembelian tiket sudah bisa merasakan dapat reduksi.
Sudah lama saya tahu program reduksi lansia tiket kereta api dari PT KAI ini. Abang di
Jatibarang sudah merasakan manfaatnya dan menganjurkan agar kami melakukan
registrasi, tapi masalahnya karena jarang naik kereta api, maka kami bergeming.
Mengingat beberapa trip yang kami lakukan, seperti ke Jember untuk menghadiri
Temu Karya Serumpun dan peluncuran buku “Semesta Ingatan – Trauma dan Imaji
Kebebasan” kami nyepur dari stasiun Lempuyangan.
Kemudian dari Jember nyepur ke
Surabaya, lalu saat kembali ke Jakarta juga nyepur.
Ya, ada baiknya reduksi lansia tiket dari PT KAI, itu dimanfaatkan.
Tidak sedikit orang adu
nyali, dari Lampung ke Jakarta ala seorang
backpacker dengan naik moda transportasi
putus-putus. Dari Bandar Lampung naik DAMRI ke Bakauheni Rp.55.000, lanjut
kapal ke Merak Rp.22.700. Dari Merak naik kereta Commuter Line Merak ke Rangkas Bitung dengan ongkos Rp.3.000, tiketnya
dibeli melalui aplikasi KAI access. Perjalanan
ini ditempuh selama 1 jam 45 menit, lalu dari Rangkas Bitung menggunakan kereta
KRL ke stasiun Tanah Abang selama 90 sampai 110 menit. Ongkosnya berapa, Bro? Hmmmm murah banget, cuma Rp.8.000 dan dibayar pakai Kartu Multi Trip (KMT)
atau kartu e-money.
Jadi, berapa total pengeluaran seorang backpacker dari Bandar Lampung hingga Jakarta? Kalau menurut tarif seperti yang terurai di postingan ini, ya, kurang lebih Rp.86.000 atau dibulatkan Rp.100.000 jika ditambah jajan pop mie dan kopi saset di kapal. Nah, cukup murah sebenarnya. Dari segi kecepatan waktu memang agak lambat. Tapi, dari segi healing, kebahagiaan, dan mendapat pengalaman berharga, ngetrip dengan putus-putus ada nilai tambahnya. Banyak yang dilihat dan dialami selama dalam perjalanan. Bagi yang jomlo, siapa tahu malah dapat jodoh dari perjalanan yang ditempuh putus-putus begitu.
Komentar
Posting Komentar