Satu per satu penyair MOZAIK pamit meninggalkan kota Bahari, kota Poci menuju rumah masing-masing. Menepi, mengadon kata jadi puisi lagi, untuk jadi antologi DNP berikutnya, tahun 2027. Itu pun kalau lolos kurasi. Jika lolos, berarti ada pemantik semangat untuk kembali berjumpa, berkumpul, kangen-kangenan, dan baca puisi di Plataran Sastra Piek Tegal atau panggung yang ditentukan tempat buku diluncurkan. Jika tak lolos, jangan jadi tangis di hati.
Agak laen kota Tegal ini. Becak kayuh masih banyak. Jarang menemukan bentor (becak motor), becak yang ditenagai mesin motor atau motor yang dimodifikasi menjadi becak. Kemarin dari gedung DPRD kota Tegal, pulang ke hotel saya pilih naik becak, dibawa melawan arus oleh pebecaknya. Sempat bablas karena pebecaknya tak hapal peta jalan. Ujung-ujungnya, minta ongkos dobel. Pagi ini, ke stasiun kembali saya mbecak. Ladalah, jalan arah stasiun diportal.
![]() |
| Berpuluh tahun ga pernah naik becak |
Oleh pebecaknya dibawa blusukan masuk gang sehingga jarak tempuh memutar jauh. Untung agak cepat berangkatnya sehingga walaupun jauh tidak bakal diburu ketergesaan. Cabut dari hotel pukul 08:39 sampai stasiun pukul 08:51, cuma 12 menit terhitung muter jauh tadi. Sementara kereta berangkat pukul 09:50. Satu jam berarti nunggu di stasiun. Tak mengapa. Di hotel nyamuknya genit-genit, tak tahan dirubungnya. Gigitannya juga nyelekit, gatal.

Komentar
Posting Komentar