Langsung ke konten utama

Mangayubagyo SBP

Buku kumpulan puisi atau antologi puisi berjudul “Kata Kota Kita” gagasan komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) Yogyakarta, memuat puisi karya 158 penyair dari berbagai kota, akan diluncurkan hari ini pukul 15:00 WIB hingga selesai bertempat di aula kampus STPMD “APMD” Jl. Timoho Yogyakarta.

Ini buku kedua bagi saya di Sastra Bulan Purnama, setelah sebelumnya “Kitab Omon-Omon” yang memuat puisi berjudul “Kata Siapa, Politik itu Kotor” dan di buku kedua “Kata Kota Kita” ini kabarnya dimuat dua puisi untuk setiap penyair. Jadi, dari 158 penyair terhimpun sebanyak 316 judul puisi.

Ilustrasi hasil tangkapan video SBP 

Seperti yang telah saya tulis di postingan tanggal 7 Oktober di bawah judul “Dua Buku Menanti” bahwa, sebenarnya menarik minat saya untuk hadir dalam perayaan ulang tahun ke-15 Sastra Bulan Purnama, tapi karena ada juga rencana hadir pada peluncuran buku “MOZAIK” di Tegal, 23-25 Oktober.

Tampilan cover antologi “Kata Kota Kita” 

Seandainya waktunya ditukar, peluncuran buku “MOZAIK” di Tegal yang tanggal 17 Oktober dan baru kemudian 23 Oktober 2026 di Sastra Bulan Purnama, itu jadi momentum yang tepat. Sebab, akhir Oktober kami (saya dan istri) akan ke Jogja dan bablas Pacitan. Karena itu, HUT SBP tak bisa saya hadiri.

Kendati tidak hadir dalam wujud badan, tetapi dalam wujud hati dan perasaan, saya nderek mangayubagya hari kelahiran atau ulang tahun ke-15 Sastra Bulan Purnama dan peluncuran buku antologi puisi “Kata Kota Kita” di STPMD “APMD” semoga “dihujani” puisi, lancar, sukses, khidmat, dan terus berjaya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...