Langsung ke konten utama

Masjid Kaya

Pekan lalu saya ‘safari jumat’ di masjid Jami' Nurul Hidayah, Jalan Raya Kurungan Nyawa, Pesawaran. Kemarin kawan ngasih tahu ada masjid bagus di sebelah sananya lagi dari tempat saya jumatan. “Kemarin saya mampir salat di situ,” katanya. Saya tanya emang dari mana? “Kondangan,” jawabnya.

Saya minta ketegasan padanya, berapa jauh dari masjid tempat saya jumatan kemarin? “Masih terus ke sana lagi, setelah kuburan Cina,” tegasnya. Tadi saya gas ke sana, memang lumayan jauh dari masjid tempat saya jumatan pekan lalu. Melewati beberapa masjid tipikal kampung yang nggak begitu besar dan tampak bagus.

Dalam rangka memperingati Hari Batik, maka saya jumatan pakai hem batik.

Masjid yang dimaksud kawan adalah masjid Al-Hidayah Tiyuh Sinar Negeri, Pesawaran. Memang tidak jauh dari kuburan Cina. Halamannya luas ada menara menjulang satu, kubahnya besar, dan uang kasnya, Broh. Seperti yang diumumkan petugas, 143 jeti sekian ratus-puluh-ribu-rupiah. “Aguy, sugih benar masjid ini,” batin saya.

Pernah juga saya posting di blog ini, satu masjid dekat Mahan Agung (rumah dinas Gubernur Lampung), uang kasnya juga ratusan jeti. Wajar saja karena orang yang salat Jumat di sana datang dari mana-mana dengan mobil dan motor bagus-bagus. Dan, mengapa uang kas itu cuma mengendap di bank tidak disalurkan ke fakir miskin dan kaum dhuafa di daerah sekitar masjid itu?

Karuan saja karena itu Pahoman, daerah elit, warga di sekitar situ sugih-sugih, disisir sekalipun untuk mencari fakir miskin dan kaum dhuafa tak akan ketemu. Nah, pertanyaan lain, mengapa tidak disalurkan ke daerah miskin di pelosok-pelosok Sang Bumi Ruwa Jurai ini? Mungkin jawabnya apa gunanya dana desa. Ya juga.

Lantas cemana uang kas masjid di Pesawaran itu bisa menumpuk segitu banyak tak disalurkan ke mana-mana? Mungkin sama juga dengan masjid yang dekat Mahan Agung tersebut. Semiskin-miskinnya orang desa (daerah Pesawaran) biasanya punya penghasilan dari sawah dan ladang sehingga tidak butuh santunan.

Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, saya jumatan pakai hem batik. Ada beberapa Bapak-Bapak pegawai kantoran dan anak-anak sekolah yang juga mengenakan batik. Anak-anak sekolah memang dianjurkan berbusana batik. Saat jogging pagi saya ketemu anak-anak berangkat sekolah, pada batikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...