Langsung ke konten utama

In this Economy

Alami pertumbuhan bisnis yang melambat, proyeksi pendapatan yang di bawah ekspektasi, dan ketatnya persaingan di industri streaming, membuat Netflix akan melakukan PHK terhadap 800 karyawan atau 5 persen dari total tenaga kerja tetapnya. PHK maning baè kiyin mah, kepribèn karèpè.

Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, mengakui bahwa meskipun perusahaan masih mencatat pertumbuhan pendapatan, pergerakannya tidak secepat yang diharapkan. Selain itu, tingkat keterlibatan (engagement) pengguna mengalami perlambatan. Selain Netflix, banyak platform streaming pilihan pengguna, itu jadi batu sandung Netflix mengalami perlambatan pertumbuhan.

Ilustrasi | IG. allblackcreatives |

Kerap saya berpikir, jaringan internet yang terpasang di rumah seperti mubazir, hanya wifi saja yang termanfaatkan sehari-hari, itu pun saat di rumah. Saat di luar rumah, kuota data di gawai kudu bisa berfungsi. TV hampir tidak pernah disetel, isinya berita omon-omon yang bikin mumet kepala.

Daripada nonton saya lebih pilih dengar musik atau baca (buku atau platform media digital). Netflix di TV alamat penggunanya anak dan menantu, begitu juga YouTube. Netflix jarang saya buka, YouTube sesekali “tonton sebagai tamu” bukan masuk pintu pengguna atas nama anak dan menantu tadi.

Saya hindari membebani biaya langganan yang mesti mereka pikul bila masuk melalui pintu user name (mereka). In this Economy yang ramai jadi tagar (#) digaungkan anak muda karena kondisi perekonomian yang kian buruk, mereka menurunkan gaya hidup (men-downgrade lifestyle-nya).

Anak muda yang tadi biasa nongki di kafe pindah ke tempat yang tidak mengurus isi dompet, tapi vibes setara dengan kafe, baik kenyamanan maupun pilihan makanan yang bisa dinikmati. Dengan income yang tidak ada perubahan, mau tidak-mau, gaya hidup yang mesti mereka ubah.

Di tengah biaya hidup yang naik, fenomena anak muda mengubah gaya hidup ramai dibahas stasiun televisi swasta nasional juga media sosial sebagai topik perbincangan hangat sehangat kopi, tapi pahit terasa. Bergaung di bulan Oktober ini berikut tagar In this Economy (#inthiseconomy). 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...