Malam ini saya berangkat ke Tegal. "MOZAIK di Negeri Poci" itulah acara yang akan saya hadiri. Bertempat di Gedung DPRD Kota Tegal, Sabtu, 24 Oktober 2026. Peluncuran buku MOZAIK dan baca puisi, itu acara pokoknya. Di samping itu, ada tausiah mengenai kesehatan dari dr. Hendrawan Nadesul, penyair senior dan salah satu pendiri komunitas sastra Dari Negeri Poci (DNP) bersama kawan-kawan.
Ada puisi saya di buku antologi MOZAIK (DNP seri ke-16). Ini adalah buku kedua setelah sebelumnya ZAMRUD (DNP seri ke-15) yang meringkus puisi saya. Bisa dikatakan agak terlambat bergabung dengan komunitas ini. Setelah bergabung di facebook DNP, baru saya tersirami info nulis bareng (nubar) dalam seri DNP yang sudah sejak lama saya ketahui, tapi tidak paham pintu masuknya.
![]() |
| Gambar made in AI |
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Aforisme ini barangkali umurnya lebih tua dari saya. Begitulah selalu dikemukakan orang yang membela diri apalagi menghadapi tudingan kok baru sekarang, selama ini ke mana aja. Tapi, ya, juga. Selama ini saya tidak tahu pintu masuknya karena tidak bergabung dengan komunitas DNP yang tergabung di grup facebook dan WhatsApp. Ya, terang saja buta informasi.
Dalam buku MOZAIK ini ada penyair yang tidak sempat menerima bukunya karena "keburu" pulang. Yaitu Sam Mukhtar Chaniago dan Agus Pramono. Tentang penyair yang puisinya lolos kurasi dan masuk buku, tapi saat buku itu jadi, tidak lagi bisa menerimanya karena "keburu" pulang, mengingatkan saya pada sosok Drs. Abdul Karim, M.M. (Abah Karim) yang pada puisi memasang nama Oka Miharzha S.
![]() |
| Gambar made in AI |
Kami (saya dan Oka Miharzha S) satu buku di antologi "HIJAU" besutan komunitas Jejak Perjalanan Jiwa (JPJ) Purbalingga diterbitkan Teras Budaya. Sebelum di buku "HIJAU" juga sudah sama-sama jadi kontributor. Saya perlu mengacak-acak lemari buku untuk memastikan dan mendapatkan catatan di buku apa saja. Dengan Sam Mukhtar Chaniago pun sudah bareng dalam beberapa buku.
Di samping MOZAIK dan ZAMRUD, dengan Sam Mukhtar Chaniago satu buku di antologi Puisi Etnik Nusantara dan kami sama-sama hadir di acara Festival Puisi Etnik Nusantara di Jambi, 20--21 Desember 2025. Atau mungkin lebih banyak dari tiga buku di atas. Ya, lagi-lagi saya mesti memeriksa ulang satu per satu buku yang ada di lemari buku. Yah, saya hanya bisa mendoakan dan mengenang mereka.


Komentar
Posting Komentar