“Anjing menggonggong kafilah berlalu” ini aforisme mencerminkan ketidakpedulian alias bodo amat pada apa yang dihadapi atau dialami. Siapa saja presiden yang merasa tidak nyaman dengan kritik? Rasanya semua presiden yang pernah menghuni istana. Karena itu, mereka yang mendaku sebagai kritikus dan vokal menyuarakan kritikan, oleh presiden “dilawan” dengan dua cara. Pertama, bodo amat terhadap kritikan yang mereka dengung-dengungkan. Kedua, menjinakkan mereka dengan jabatan atau kedudukan. Ada ruang-ruang nyaman yang bisa membuat kritikus terlena dengan fasilitas yang disediakan sehingga mereka lupa diri bahwa mereka dahulunya vokal, kini diam seribu bahasa. Ruang-ruang nyaman itu, misalnya sebagai wantimpres, komisaris BUMN dan jabatan yang lebih strategis seperti menteri dan wakil menteri atau “dibuang” jauh-jauh sebagai duta besar.
Yang
mana yang akan dipilih di antara pilihan pertama atau kedua, terserah kepada
presiden sepenuhnya. Mau bodo amat boleh saja, bebas kok. Presiden kan kafilah yang sedang berjalan, berjumpa anjing menggonggong, terus saja ia
berlalu. Biarkan si anjing menggonggong sampai lelah. Biarkan saja
orang-orang yang mengkritik bersuara dengan lantang, presiden tak usah pedulikan.
Namanya juga “kafilah tetap berlalu”, maka teruslah berjalan. Namun, bagi
presiden yang tak tahan pusing dengan gonggongan anjing, mungkin berpikiran
kasih saja anjing itu tulang agar diam. Kasih saja orang-orang yang suka
mengkritik itu jabatan. Maka, orang yang selalu mendengung-dengungkan narasi
"akal sehat" dianggap dungu setelah masuk lingkar kekuasaan
yang selalu dikritiknya. Barangkali asumsi ini ada benarnya.
![]() |
| Ilustrasi, anjing yang dikasih tulang oleh tuan berbalik arah menggonggong ke arah massa (gambar dipinjam dari facebook Adolf Ayatullah) |
Si
pemilik narasi “akal sehat” yang suka mengkritik kekuasaan, setelah masuk
lingkar kekuasaan pada akhirnya mencicipi nano-nano rasanya dikritik ketika
diserang oleh netizen yang menganggapnya dungu. Jangan salahkan netizen karena “maha
benar netizen dengan segala anggapannya” karena berdiri di atas asumsi. Si
orang yang dianggap dungu, akan tetapi, punya alasan tersendiri mengapa mau
masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Ia pun berdiri di atas asumsi. Analoginya
bila hendak menembak sasaran, tembaklah dengan senjata yang tepat dan bidiklah
sedekat mungkin. Asumsi si pemilik narasi “akal sehat” yang dikatakan dungu, ia
mau menerima tawaran masuk lingkar kekuasaan agar bisa menembak sasaran dari
titik bidikan sedekat mungkin, yaitu dari dalam lingkar kekuasaan. Dalam bahasa
lain, yaitu mengkritik dari dalam dengan memberi saran, usul, dan
pertimbangan sesuai kedudukan yang diterimanya, wantimpres.
Dengan
berada di dalam lingkar kekuasaan, si anjing tidak lagi menggonggong tuan yang
memberinya tulang, tapi berbalik arah, menggonggong netizen yang
mengata-ngatainya dungu. Ya, namanya saja anjing yang diberi tulang oleh tuan,
tentu akan jinak, diam, dan tak menggonggong. Kalaupun menggonggong, tidak
menyalak keras, tapi “bisik-bisik” lembut. Sebaliknya menggonggong ke arah
massa, publik, dan netizen yang mencercanya dengan gonggongan keras bikin takut.
Bisa jadi salakannya lebih keras dibanding kepada penguasa sebelum jadi tuannya.

Komentar
Posting Komentar