Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika.
Bali
Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu
menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan
dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu
menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara.
![]() |
| Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) |
Menghadiri
Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru
empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah
lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama
karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta.
"Wah,
saya senang sekali," seru saya. Terima kasih. "Tidak apa-apa menunggu lama,” lanjut saya. Menyusul yang dimuat NusaBali muncul kiriman pdf halaman korannya. “Maaf belum bisa memberikan honor,” kata Warih
Wisatsana. “Oh, terima kasih telah memuat puisi saya, tidak apa-apa tanpa
honor,” balas saya.
Puisi
tentang puisi yang dimuat di koran NusaBali, di antaranya berjudul: "Puisi yang tak
Berumah 1", "Puisi yang tak Berumah 2", "Manusia Puisi 1", "Manusia Puisi 2", "Manusia
Puisi 3", "Puisi Kesepian dan Pemarah". Inspirasinya dari mengawasi tata laku dan
kehidupan manusia gerobak yang sering saya jumpai di jalanan.
Manusia Puisi 1
Puisi Zabidi Yakub
Manusia puisi ituseperti manusia gerobak lainnya
menghabiskan malam di trotoar jalan
melanjutkan perjalanan di sepanjang siang
derit roda adalah sajak yang mereka lantunkan
khusyuk bertasbih tanpa pretensi
sebab mereka percaya
doa adalah hak segala manusia
suci atau berlumur dosa, layak memanjatkannya
karena mereka yakin
Tuhan Maha Menyimak suara batin paling intim
seperti manusia gerobak lainnya
beralas kardus, salat di atas trotoar
bersahabat dengan debu jalan di setiap waktu
Zuhur yang luhur, Asar yang tersasar
Magrib yang karib, Isya yang syak
dan Subuh yang mereka percayai melebuhkan
anaknya yang meringkuk dalam gerobak
melambangkan orang yang sedang sujud
membuat hatinya tak pernah gusar
nasib mengikuti ke arah mana roda berputar

Komentar
Posting Komentar