Langsung ke konten utama

Masjid Terbuka

Sudah lama saya pengin 'safari jumat' di Masjid Daarul 'Ilmi yang ada dalam komplek SMPIT - Daarul 'Ilmi, Perumahan Bukit Kemiling Permai ini. Tetapi, selalu saja dicegat oleh feeling 'entah' yang kemudian mengalihkan tujuan saya ke masjid lain.

Tadi dengan stil yakin saya langsung saja menuju ke masjid ini kendati meraba-raba jalan sebab tak ada rambu-rambu menunjukkan bahwa ada masjid di situ. Saya bertemu bapak menggunakan tongkat menuju masjid. Saya hentikan motor dan bertanya.

Masjid Daarul 'Ilmi, masjid terbuka sejuk terasa 

Saya tanya di mana masjid? Di situ jawabnya. Saya putar balik motor masuk gerbang ke area sekolah Islam terpadu ini. Di dalam tetap saja saya bingung mencari yang mana masjidnya, kembali bertanya ke anak-anak yang duduk di pinggir lapangan basket.

Ditunjukkan bangunan yang seperti masjid belum jadi. Setelah masuk ke dalamnya, saya perhatikan, ternyata memang bentuk bangunannya dibiarkan tanpa dinding. Malah tak terasa panas, angin bebas masuk-keluar dari arah yang tak disangka-sangka.

Anak-anak SMPIT baru saja menyelesaikan kegiatan di masjid ini. Ada yang sedang menyedot debu di karpet dengan vacum cleaner. Saya langsung salat tahyatul masjid disambung Dhuha. Bapak yang tadi jalan bertongkat sampai, langsung duduk di kursi.

Alhamdulillah, sehat terus, Bapak. Melihat tongkat yang ia gunakan, sepertinya ia baru pulih dari struk dan masih bisa pergi ke masjid untuk salat jumatan. Diberi 'kesempatan kedua' adalah anugerah paling besar yang seyogianya sangat patut disyukuri.

Pada masjid-masjid tempat saya 'safari jumat' ada saja bapak-bapak yang sudah menggunakan properti penunjang, seperti kursi untuk salat dan tongkat untuk berjalan. Bahkan, ada yang salat dengan duduk karena pinggangnya tak bisa lagi ditekukkan rukuk.

Walakin, mayoritas jemaah salat jumat tadi adalah anak-anak SMPIT Daarul 'Ilmi, sedikit sekali bapak-bapak yang nyelip. Niscaya bapak-bapak yang rumah mereka di sekitar kampung dekat sekolah tersebut berada yang tak bisa bepergian ke masjid yang jauh.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...