Kesedihan terjepit gerbong KRL yang ditabrak kereta api Argo Bromo Anggrek. Di blog ini saya sudah beberapa kali mengisahkan para penglaju "pejuang rupiah" yang berangkat subuh dari rumah demi mengejar satu tapak tempat berdiri di dalam gerbong KRL seandainya tidak mendapatkan tempat duduk, berdiri sekalipun mereka tahan yang penting bisa sampai kantor tempat bekerja tidak terlambat.
Begitu pun sebaliknya, saat hendak pulang ke rumah, mereka berjibaku mengegas langkah lebih cepat lagi untuk lekas sampai di stasiun agar tidak ketinggalan KRL commuter line yang akan mengangkut mereka ke alamat masing-masing, dengan memanggul lelah setelah bekerja seharian. Kendati bekerja di ruangan berpendingin udara, tak ayal rasa lelah terakumulasi dari loyalitas, beban kerja, dan stres yang mendera.
![]() |
| Beginilah KRL yang dihajar KA Argo Bromo yang melaju dengan kecepatan 110 km/jam. | gambar pinjam pakai milik detik.com | |
Para penglaju luar Jakarta, menyerbu Jakarta di pagi buta. Mereka dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi atau yang disingkat BoDeTaBek, bahkan Karawang. Tiga sampai empat jam dalam perjalanan, biasa bagi mereka yang dari Karawang. Setengah sampai satu jam bagi yang dari BoDeTaBek. Duduk atau berdiri sama menyenangkan bagi mereka karena merasa lebih beruntung dibandingkan dengan yang lainnya.
'Yang lainnya' di sini maksudnya adalah mereka yang menganggur karena sejak lulus dari bangku kuliah (fresh graduate) memang belum mendapat pekerjaan atau korban layoff (PHK besar-besaran) yang begitu terpaksa dilakukan company tempat mereka bekerja karena terdampak persaingan global atau kebijakan pemerintah "konoha" yang tak bisa memberi jaminan stabilitas iklim usaha yang kondusif di dalam negeri.
Kecelakaan di stasiun Bekasi Timur (Senin, 27/4 malam) yang merenggut korban jiwa penglaju KRL, penumpang wanita yang mereka itu merupakan "pahlawan bagi keluarganya" menimbulkan elegi. Langkah mereka patah, tak sampai tujuan akhir, rumah yang nyaman, pelukan suami, ciuman anak-anak yang lucu menggemaskan. Atau kasih sayang orang tua bagi mereka yang masih berstatus lajang.
Tinggallah ruang-ruang kantor yang memberi mereka status sosial, eksistensi diri, kenyamanan, dan kebahagiaan. Membelokkan langkah mereka ke tujuan akhir hidup. Memang betul, kematian adalah takdir Sang Pemilik hidup. Tetapi, bututnya sistem transportasi khususnya perkeretaapian, tak bisa dikesampingkan untuk diperhatikan. Yang sudah-sudah, kecelakaan kereta acap karena human error.

Komentar
Posting Komentar