Langsung ke konten utama

Mengisi Waktu

Saudara istri sesama asal Pacitan rajin sekali gowes di hari Minggu. Ia sempatkan mampir ke rumah minimalis kami. Saling bertanya kabar dan berbagi cerita tentang keluarga. Maklum sih jarang sekali ketemu, tentu kangen. Diobati dengan cerita.

Di jalan Teuku Cik Ditiro, bila saya sedang beli sayur di warung sayur matang Buk Ninik depan SMPN 14, acap melihat iring-iringan rombongan penggowes lewat. Senang melihatnya. Saya membatin, alangkah kuat jantung mereka itu. Berapa km mereka tempuh.

Ilustrasi | credits title : MainSepeda |

Di Jakarta, oleh mantan gubernur Anies Baswedan, dibuatkan jalur khusus buat sepeda. Dengan begitu, para penggowes merasa aman dan nyaman menjalani gowes. Apalagi yang ngegowes tak hanya kaum Adam saja, tetapi tak sedikit kaum Hawa cantik dan manis.

Tadi pagi, kembali saudara kerabat istri sesama asal Pacitan itu mampir. Cerita tentang hari raya kemarin mereka mudik ke Pacitan. Kami tidak mudik karena anak-anak dan mantu tahun ini gilirannya kumpul bersama di rumah. Tahun lalu giliran kumpul Jogja.

Saudara itu cerita, pernah katanya ramean gowes ke Kotabumi, menginap semalam lalu besoknya balik lagi ke Bandar Lampung. Lagi-lagi saya membatin, alangkah kuat jantung mereka. Tentu saja itu hasil dari rutin melakukannya setiap satu minggu sekali.

Gowes itu bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan, melainkan kekuatan jantung. Pernah ada kejadian seorang pejabat yang berangkat ke kantor di Jakarta dari rumahnya di Bogor dengan menggowes sepeda, kena serangan jantung, tidak tertangani, meninggal.

Ada juga kejadian di kampung dahulu. Kepala MTsN usai main badminton, saat duduk istirahat tiba-tiba pingsan dan akhirnya meninggal. Bisa jadi karena kelewat memporsir diri saat main, terlampau lelah lalu membuat irama jantung mengalami gangguan.

Tidak mesti serangan jantung, adanya gangguan irama jantung pun bisa memicu henti jantung dan mengakibatkan kematian. Dalam kasus henti jantung, tidak usah berkegiatan berat, sedang tidur pun bisa meninggal dunia. Ini akibat plak di saluran arteri.

Saudara kerabat istri sesama asal Pacitan itu, gowes di hari Minggu, baginya untuk mengisi waktu saat libur bekerja. Tadi ia cerita kalau sudah dipensiunkan kantornya. Berarti nggowes akan bermakna 'mengisi waktu' beneran baginya. Namanya juga pangsiunan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...