Seperti labu yang akan runtuh dengan batang yang kepayahan menyangganya. Begitulah perumpamaan mendung menjelang jumatan tadi. Saya batalkan rencana ‘safari jumat’ ke masjid Taqwa di Jl. Kotaraja, Tanjungkarang Pusat. Saya alihkan ke masjid terdekat, yaitu masjid Al-Anshor di Jl. Dua Jalur Perum BKP.
Pukul 11 saya tancap gas
berangkat ke masjid. Memarkir motor lalu masuk ke dalam masjid. Sedang salat
tahyatul masjid, hujan runtuh. Suhu dingin ruang masjid jadi lebih terasa
setelah cuaca hujan meningkahinya. Saya menggeser posisi duduk dari sejajar AC
di tembok, mundur mendekati tiang masjid.
![]() |
| ilustrasi, duduk di ruang ber-AC | enervon |
Saya pikir hujan bakal lebat
sekali sehingga membasahi jemaah yang nekat berangkat. Ternyata tidak lama
kemudian reda. Berangsur-angsur jemaah berdatangan dan mengisi shaf-shaf yang
masih kosong. Perlahan-lahan suhu dingin ruang bertambah hangat oleh banyaknya jemaah.
Begitulah kegalibannya.
Suhu tubuh manusia yang
hangat menguap memenuhi ruang. Perlahan-lahan suhu dingin dari AC kian
dikalahkannya. Beruntung ada hujan, padahal dalam keadaan panas, suhu dingin
ruang masjid akan cepat sekali menghangat oleh penguapan suhu tubuh jemaah. Akhirnya, dalam ruangan akan terasa panas juga.
Ya, sungguh aneh seringkali
saya rasa. Suhu ruang masjid yang tadinya dingin, setelah penuh jemaah, tiba-tiba
bertambah hangat dan lama-lama saya merasa gerah pada akhirnya. Gerah di ruang
ber-AC, begitulah kiranya. Akan halnya tadi, tidak begitu gerah, tapi suhu
ruang yang tadinya dingin, jadi hangat.

Komentar
Posting Komentar