Langsung ke konten utama

Obat Demam

Beriringan perayaan pra Paskah (Kamis putih, Jumat agung, dan Sabtu sunyi), umat muslim masih suasana bulan Syawal, pada Kamis, Jumat, dan Sabtu ini menjalankan puasa ayyaumul bidh. Saya baru mulai puasa Syawal sejak Kamis sekalian puasa ayyaumul bidh, tapi hanya bisa sampai Jumat, Sabtu terpaksa saya menyerah karena mengalami demam.

Tahun lalu, agak lupa tepatnya tanggal berapa dan bulan apa, saya juga menyerah puasa ayyaumul bidh di hari kedua karena diserang vertigo. Demam kali ini tidak parah amat. Saya terbangun pukul 3 dini hari untuk BAB. Seharian berulang hingga tiga kali, begitu tengah hari keluar bintik-bintik (ruam merah-merah) di bagian perut dan punggung. Sudah kerap terjadi.

Sekadar ilustrasi| credit title: SMP Kristen 1 Surakarta|

Tidak harus ke klinik, cukup minum obat yang ada di kotak obat. Paracetamol lebih dari cukup untuk bisa menjinakkan demam yang tidak begitu parah. Untuk lebih mendapatkan tubuh yang prima, saya tambah dengan vitamin. Tapi, obat paling mujarab agar cepat sembuh adalah makan yang banyak, walaupun tidak nafsu kudu dipaksakan. Atau temukan cara terbaik.

Puasa Syawal saya baru dapat dua hari, Senin akan dilanjut lagi. Mudah-mudahan badan cepat pulih sehingga sampai dapat 6 hari senyampang bulan Syawal masih ada dua minggu ke depan baru habis. Agak sayang sebenarnya ayyaumul bidh cuma dapat dua hari. Tapi, jika saya paksakan, maka akan kolaps beneran, cilaka duabelas. Mengingat sudah lansia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...