Setelah gagal menyambanginya kemarinnya kemarin (selumbari) karena diganggu hujan, pada akhirnya tadi malam berdua istri ke sini habis magrib. Kaget juga melihat pengunjung yang duduk penuh sabar menunggu pesanan terhidang di meja.
Tidak semua kebagian meja. Ada yang duduk di teras ruko (yang berundak-undak) tempat warung tenda ini membuka lapak. Saya dan istri berdiri menunggu mereka yang sedang merampungkan makan malam yang nikmat suap demi suap. Bikin ngiler melihatnya.
![]() |
| Menunggu menu terhidang |
Ya, Sop Iqbal, begitulah kuliner tenda pinggir jalan Kartini, Kota Tapis Berseri, ini menyebut identitas dirinya. Tidak berapa lama saya dan istri berdiri, bapak yang rampung makan menyerahkan meja mereka kepada kami, "Sini, Bu," kata si Bapak itu.
"Terima kasih," jawab kami. Saya dan istri duduk, satu per satu piring nasi di antar ke hadapan orang-orang yang sudah duluan duduk di meja dan teras ruko itu, hingga pada akhirnya sampai juga giliran kami. Saya ceklak ceklik membidikkan kamera, mengambil foto.
Tentu bukan hanya saya saja yang butuh ambil foto rekaman kenangan menikmati kuliner ini, melainkan beberapa orang lain pun menjepretkan kamera hp sebelum makan. Tak dimungkiri hal yang demikian itu merupakan sebuah kegaliban di era sosmed ini.
![]() |
| Inilah penampakan sop yang viral itu. |
Cewek di sebelah kanan dan kiri saya serta ibu-ibu di hadapan saya yang duduk di teras ruko juga mencuri waktu sejenak, sebelum menyantap hidangan, ceklak ceklik mengabadikan sop di mangkuk dan sepiring nasi di hadapannya, pindah tempat ke galeri hp-nya.
Begitu saya hirup kuahnya, memang nikmatnya luar biasa ini sop. Sesuai ekspektasi. Pantas belaka orang betah berdiri menunggu dapat meja. Tak salah juga jika cepat sekali ludes. Ada saja pengunjung yang melontarkan kekecewaan karena tidak kebagian.
Di tengah kami menyantap makan, terdengar nada kecewa dilontarkan seorang ibu. "Wah, habis, ya, Pak. Tadi malam gak buka, kemarin malamnya habis. Ini kehabisan juga. "Dah, minta nomor WhatsApp-nya Pak, biar saya reservasi dulu besok sebelum ke sini."
Membaca kekecewaan si ibu itu, saya terjemahkan, artinya bila saya dan istri datang habis Isya, niscaya akan kecewa juga. Orang datang makan pergi silih berganti, hampir tak ada jeda mereka melayaninya hingga baru benar-benar berhenti ketika habis.


Komentar
Posting Komentar