Setidaknya malam ini, di masa injury time, e-mail Mas Sosiawan Leak akan diserbu pengirim puisi MBG (Makan Bergizi Gendam) yang nama-nama mereka sudah terdaftar sebagai kontributor antologi puisi MBG, tetapi belum mengirimkan karya.
Saya
sudah mengirim naskah puisi pada 8 April. Ada 5 judul puisi yang saya kirim,
tentu berharap ada salah satu atau salah dua yang lolos kurasi dan katut dalam buku antologi puisi menolak
korupsi (PMK) sebagai wujud sikap batin membenci korupsi.
Bersamaan
dengan hari yang di pagi sempat panas lalu kemudian siang disaput mendung dan
magrib tadi hujan ricih-ricih, ada lagi datang info tentang even menulis puisi
dari beberapa komunitas. Takkan henti, jadinya, kepala ini menjaring metafora.
Dan,
info itu langsung saya teruskan kepada teman. Kami berdua memang selalu saling
bertukar info, saling support, dan
saling doakan untuk senantiasa sehat dan kreatif. Sejauh ini, semua even yang
sudah berlangsung, belum satu pun saya abaikan.
Satu
even yang ditaja Sastra Bulan Purnama, lolos kurasi dan sedang dalam proses layout,
cetak, dan perencanaan launching di Museum
Sandi, Kotabaru, Jogja. Tahun kemarin di Sastra Bulan Purnama, saya katut dalam antologi Kitab Omon Omon.
Kepada
seorang, saya katakan, nulis puisi yang bertema, saya agak ‘lemah syahwat’ dalam
arti perlu berpikir keras untuk menemukan benang merah dari tema tersebut dan
bagaimana menuangkannya dalam karya puisi. Teman itu mengakui hal sama.
Tapi,
sepanjang tahun kemarin, ia tak satu pun mengalami kegagalan. Semua even nulis
puisi lolos kurasi. Malam ini, doa semoga tahun ini saya bisa lolos kurasi,
dikemukakan teman setelah saya bagikan info dan mengatakan tahun kemarin saya gak lolos.
Saya
aamiin-kan doanya tersebut. Tentu, untuk doa yang baik mustahil ndak saya aamiin-kan. Doa itu, entah doa
yang keberapa dan dari mulut siapa, baru akan diijabah Allah SWT. Kita tidak
tahu, maka berdoa sajalah untuk teman, saudara, dan siapa saja.
Komentar
Posting Komentar