Langsung ke konten utama

Doa Siapa dan Keberapa

Setidaknya malam ini, di masa injury time, e-mail denmas Sosiawan Leak akan diserbu pengirim puisi MBG (Makan Bergizi Gendam) yang nama-nama mereka sudah terdaftar sebagai kontributor antologi puisi MBG, tetapi belum mengirimkan karya puisinya.

Saya sudah mengirim naskah puisi pada 8 April. Ada 5 judul puisi yang saya kirim, tentu berharap ada salah satu atau salah dua yang lolos kurasi dan katut dalam buku antologi puisi menolak korupsi (PMK) sebagai wujud sikap batin membenci tindakan bejat korupsi.

Ilustrasi | gambar by: pinterest

Bersama dengan hari yang di pagi sempat panas lalu kemudian di siang disaput mendung dan magrib tadi hujan ricih-ricih, ada lagi datang info tentang even menulis puisi dari beberapa komunitas. Takkan henti, jadinya, kepala ini (melamun) menjaring metafora.

Dan, info itu langsung saya teruskan kepada teman. Kami berdua memang selalu saling menukarkan info, saling support, dan saling doakan untuk senantiasa sehat dan kreatif. Sejauh ini, semua even yang sudah berlangsung, belum satu even pun saya abaikan.

Satu even yang ditaja Sastra Bulan Purnama, lolos kurasi dan dalam proses cetak dan terbit. Rencana launching pada Sabtu, 23 Mei di Museum Sandi, Kotabaru, Jogja. Tahun kemarin di even Sastra Bulan Purnama, saya katut di antologi "Kitab Omon Omon".

Kepada seorang teman, saya katakan, nulis puisi yang bertema, saya agak ‘lemah syahwat’ dalam arti perlu berpikir keras untuk menemukan benang merah dari tema tersebut dan bagaimana menuangkannya dalam karya puisi. Teman itu mengakui, merasakan hal sama.

Tapi, sepanjang tahun kemarin, nyatanya, ia tak satu pun mengalami kegagalan. Semua even nulis puisi lolos kurasi. Malam ini, doa semoga tahun ini saya bisa lolos kurasi, dikemukakan teman setelah saya bagikan info dan mengatakan tahun kemarin saya gak lolos.

Saya aamiin-kan doanya tersebut. Tentu, untuk doa yang baik mustahil ndak saya aamiin-kan. Doa itu, entah doa yang keberapa dan dari mulut siapa, baru akan diijabah Allah SWT. Kita tak tahu, maka berdoa sajalah untuk teman, saudara, dan siapa pun juga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...