Ini kopi gerobak yang sudah saya ceritakan di postingan blog pada 28 Maret berjudul "Kopi Ngingi" karena memang yang mereka jual adalah kopi dingin (ngingi, bhs. Lampung). Kopi plus es.
Tadi malam ketika saya ke Kemiling (atas) mencari obat di apotek, saya lihat kerumunan orang antre di depan gerobak hendak membeli kopi yang sedang kekinian ini. Menonton dua orang peracik di dalam.
![]() |
| Kopi gerobak di Jl. Teuku Cik Ditiro, Kemiling |
Sebuah antusiasme jadi pemandangan menggelikan. Memang demikianlah agaknya, di Tanoh Lada, Tapis Berseri, dan Sang Bumi Ruwa Jurai, ini sesuatu yang baru selalu menarik perhatian. Namanya juga 'baru.'
Setiap ada kafe baru, diserbu pengunjung kendati hanya untuk mencoba atau menjadikannya tempat ngonten untuk diunggah di media sosial facebook, IG, Threads atau TikTok. Memvalidasi status sosial.
![]() |
| Antusiasme warga pengin mencoba |
Saya perhatikan di Pasar Pucang, Surabaya, kopi gerobak NESCAFE ini tidak begitu ramai pembeli. Biasa saja. Pertama, sudah lewat masa euforianya. Kedua, budaya warga Suroboyo terkesan cuek.
"Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalang" begitu aforisme mengatakan. Lain wong Suroboyo, lain pula ulun Lampung yang suka mabuk sensasi. Memang agak laen sehingga penerimaan pun laen.


Komentar
Posting Komentar