Langsung ke konten utama

Taman Mungil Depan Rumah

Tiga pot bunga wijayakusuma memekarkan 13 kuncup kembang tadi malam. Pot pertama (pot gantung) memekarkan 5 kuncup kembang, pot kedua (yang diikat di batang pohon kelengkeng, memekarkan 7 kuncup kembang, dan pada pot ketiga (juga pot yang digantung) memekarkan hanya satu kuncup kembang.

Saya keluar pintu pada pukul 21:25, kuncup kembang sudah bermekaran. Tetapi, mekarnya belum merekah sempurna. Saat hendak subuh ke masjid pukul 04:40, saya melihat bunga wijayakusuma sudah memekarkan kembangnya dengan sempurna. Semerbak bau wangi terhidu oleh hidungku. Oi, baunya sedap juga, rupanya.

Puncak perjalanan dari kuncup menjadi mekar 

Ini peristiwa berkembang untuk kali kedua. Sebelum ini, bertepatan dengan Valentine's Day Februari lalu, bunga wiku (wijayakusuma) ini memekarkan kembang untuk kali pertamanya. Saat itu tidak banyak, hanya 5 kuncup kembang yang mekar. Tapi, tetap saja menghadirkan pengalaman baru di teras rumah minimalis kami.

Selama ini pot gantung berisi tanaman merambat (yang) dijungkirbalikkan (menggantun g) ke bawah. Setelah bunga wijayakusuma yang kami tanam di pot dan diletakkan di bawah dialihkan ke pot gantung, kelihatan lebih cantik karena sulur-sulur daunnya menggantung yang pada akhirnya mengembang.

Kembang lainnya yang mengisi ‘taman mungil depan rumah’ ada gelombang cinta, kuping gajah, janda bolong, sirih merah, dan dari jenis keladi yang saya tak tahu persis apa namanya. Sayangnya, daun kembang-kembang ini merontol (gundul) karena dipatuki ayam tetangga. Ah, bikin rusak ‘taman mungil’ kami.

Sementara pohon sirsak madu yang sebelumnya hanya panen 2 buah, saat ini ada 9 buah yang berhasil keluar dari kerasnya perjuangan bertahan. Setiap kali mekar kembangnya, tak lama kemudian, tak lama kemudian putik buah sebesar jempol gugur karena dihantam hujan deras. 9 buah yang lolos ini akan membesar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...