Langsung ke konten utama

Postingan

Kampung kecil dan besar

Danau Ranau berhias siluet perahu nelayan pencari ikan. Inilah kampung halaman yang kusayangi. (foto: koleksi pribadi) Wa , iki ajakan yang penak tenan . Sama seperti diajak makan, apa iya ditolak. Tidak, kan. Kecuali ajakannya cuman basa-basi. Ajakan menulis tentang kampung halaman. Bercerita tentang ingatan-ingatan di masa kecil di kampung. Tetapi, apa, ya, bakal isi ceritanya. Karena sepulang dari Bali jatuh demam, maka di dekat-dekat waktu deadline saya baru mulai nulis. Begitu buka laptop 3 November malam langsung mengetik sekenanya, sadar-sadar sudah pukul 01 lebih, baru 1000 kata dari 5000 yang ditentukan. Wah, berat juga ini. Berhenti dan tidur. Besoknya, 4 November malam saya lanjutkan. Tapi, gak mungkin rasanya bercerita hingga maksimal 5000 kata. Hanya 2550 kata dalam 62 paragraf yang bisa saya dapat upayakan. Itu pun rasanya sudah semua diceritakan. Sudah deh , kirim saja sekarang. Dan, pukul 22:42 tadi naskah sudah terkirim ke e-mail dan nomor kontak person tempat konf...

Udan tanpo Mendung

Hasil jepretan saat hujan lagi deras-derasnya pukul 12:57 WIB Alhamdulillah, hujan pun tiba. Hari Jumat barokah. Keluar masjid usai jumatan disambut gluduk  sahut-sahutan. Tengadah ke langit, mengapa langit terang? Siapa menyangka di balik langit yang terang tanpa mendung bisa mencurahkan hujan. Nah, ini "udan tanpo mendung" bukan sebaliknya seperti kata lagu. Kalau kata lagunya Ndarboy Genk, "Mendung tanpo Udan." Ini tadi udan tanpo mendung. Dari panas terik tiba-tiba tercurah hujan yang begitu deras terlimpas.  Ya, kekuasaan Allah Swt tidak terselami akal pikiran dan logika hamba-Nya yang amat terbatas. Panas berganti hujan, mudah bagi Allah Swt menukarnya. Pun sebaliknya. Atau hal apa pun begitu mudah akan dipertukarkan Allah Swt silih berganti. "Kun fayakun, maka jadilah." Begitu mudah atas dasar Kuasa-Nya.

Kereta Malam

Stasiun Gubeng Surabaya (Dian Kurniawan/Liputan6.com) Empat hari di rumah. Anak bujang balik ke Surabaya. Pagi tadi naik Damri ke Jakarta, malam ini dengan kereta api ia lanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Sampai Stasiun Gubeng subuh esok, langsung balik ke tempat indekos, tidur barang sebentar usai salat subuh. Setelah terbangun barangkali lumayan fresh. Apalagi kalau di perjalanan bisa tidur pulas di kereta api. Karena harus ngantor, maka kondisi badan harus fit dan prima. Tidak terlihat loyo apalagi mengantuk. Diberi izin maksimal empat hari, praktis habis di hari Kamis ini. Berarti besok Jumat nggak boleh lagi nambah izin. Kembali bekerja secara full di kantor. Pukul 20:12 tadi kereta yang ia tumpangi berangkat, pesan WhatsApp ia kirim kepada kami dua ibunya, mohon didoakan selamat dan lancar hingga tujuan. Tentu tidak hanya saat bepergian kami mendoakan. Setiap saat pun doa kami langitkan untuk kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan kami bersama. Saling mendoakan, intinya. ...

Hujan tak Sampai

Ilustrasi foto hujan (pixabay) Suara gluduk terdengar bersahut-sahutan siang tadi. Pertanda hujan akan turun, tetapi hingga senja ini tidak juga datang hujannya. Mampir di manakah? Rupanya kemarin 'hujan tak sampai' di kompleks perumahan. Saat kami akan pergi, begitu naik taksi online tetes-tetes air hujan berjatuhan di kaca mobil. Sampai Jalan Pramuka hujan menderas, terus saja mengguyur sepanjang jalan yang kami lalui arah RS Oerip Sumohardjo hingga tiba tujuan Jalan Morotai. Apa hasilnya? Siraman hujan sedikit menyejukkan suasana. Gerah yang begitu nendang  terasa sedikit berkurang. Romansa hujan melahirkan rasa damai. Pertukaran rasa dari gerah ke damai patut disyukuri meski baru selintas waktu saat hujan setengah hari. Nanti kalau hujan sudah saban hari, hanya satu rasa. Apalagi kalau bukan damai. Itulah yang selanjutnya akan membersamai menggantikan rasa gerah yang meringkus kita selama setengah tahun belakangan.

November Rain

Jalan di wilayah Wayhalim Bandar Lampung basah oleh hujan, Rabu (1/11/2023). Foto: Sri/Kupastuntas.co Nah, akhirnya hujan datang juga, sekira tengah hari selepas zuhur tadi mengguyur kota Tapis Berseri Bandar Lampung. Perjalanan dengan taksi online terasa sejuk AC-nya, tidak gerah sampai lokasi tujuan, sebidang wahana usaha event pernikahan. Melanjutkan acara kemarin, fiting beskap untuk calon manten. Hari ini tadi beskap untuk orang tua. Alamak... alangkah besar lingkar pinggang celana beskap tersebut. Benar-benar kedodoran pada pinggang saya yang kelangsingannya terjaga baik. Bodi saya agak nyeleneh. Kalau beli kemeja batik lengan pendek ukurannya M, tetapi bila lengan panjang ukurannya harus L. Karena ukuran L panjang lengannya pas, ukuran M pasti lengannya akan kependekan. Begitu pula dengan beskap tadi. Ukuran L cocok panjang lengannya, tapi bahunya terlihat lebih melebar. Ukuran M bodinya pas, tetapi panjang lengannya kependekan. Nyeleneh, kan? Ya, begitulah. Tetapi, tetap ukur...

Kejar Tayang

Pulang dari Bali saya seperti 'mencari obat penikmat makan' yaitu sambal terasi. Memang terasa nikmat, tetapi akibatnya radang tenggorokan datang minta menjadi teman. Gak demam panas, tensi dan suhu badan normal. Namun, radangnya luar biasa ganas. Minum obat dari klinik dekat rumah rupanya tidak mempan. Berkumur air garam sebagai bala bantuan, lumayan fit badan hari ini. Mulai menyelesaikan urusan yang sempat tertunda menyangkut surat menyurat persyaratan anak bujang untuk menikah. Kembali ke Pak RT, hari ini tadi ke kelurahan, besok ke KUA. Setelah beres di KUA asal kemudian dibawa ke KUA tempat pernikahan akan dilaksanakan. Setelah semua aman tinggal menunggu hari H yang tentu tidak terasa, waktunya semakin mendekat. Ini "kejar tayang" istilahnya. Surat menyurat, prewed, suvenir, undangan, dan fiting baju akan diselesaikan berturut-turut kemudian. Yang penting urusan hari ini selesai. Walau calon istri belum ikutan tandatangan, namun Pak Lurah kami bersedia menanda...

Anak Jali

Dalam kondisi kurang sehat, pagi tadi ke pesta pernikahan anak dari almarhum Rijali, adik sepupu muari bak. Agak siang berangkat, agak tidak etis karena mestinya jadi baya (orang dalam) yang datang lebih dahulu dari para tamu. Tetapi apadaya, keringat dingin mengucur deras membuat badan terasa dingin dan muka terlihat pucat. Sehingga jadi baya musah (kurang tidur) atau baya kawasan (kesiangan). Apa boleh buat, kondisi di luar kendali. Radang tenggorokan yang membuat badan tidak fit. Tidak demam panas, tensi darah terbilang normal di angka 130/70 mmHg dan suhu badan 36,4°C. Itu hasil pemeriksaan di klinik yang ada di jalan jalur dua BKP. Biasanya saya berobat di klinik jalan jalur dua Kemiling. Entah mengapa istri menyarankan berobat di dekat rumah saja. Agak kurang mantap obatnya atau radang tenggorokan yang luar biasa ganas. Karena hingga malam ini masih sakit saat menelan. Anak Jali yang ketiga, perempuan, sarjana terapan kebidanan kelahiran 1994, mendapat jodoh cowok Lampung asa...