Langsung ke konten utama

Postingan

Ramadan (Penghulu yang Dirindu Kembali Datang)

Sunset dibidik dari bukit SMPN 28 Bandarlampung (Jumat, 26 Mei 2017) /1/ Matahari terakhir pulang memapah waktu yang kelu Lindap di balik samar bayangan hilal yang mengintip di kejauhan Penghulu yang lama dirindukan kembali datang Bukan sembarang penghulu, dialah penghulu bulan Penghulu yang akan mengijabkan semua penantian Penantian yang tak kunjung lekang diperam segala bulan Mungkin keagungan Ramadan bisa menyepuhnya Ramadan yang janjikan nikmat, ampunan dan pembebasan Semua orang menyucikan diri untuk menyambut kehadirannya Menatahkan takwa, lalu pulang ke jati diri, kembali ke fitrahnya Penghulu yang menurunkan Alquran pada malam qadar Malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan Pada malam itu turun para Malaikat dan Ruh Jibril Atas izin Tuhannya, mengatur semua urusan Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar Angin terakhir berdesau pulang menuju kekekalannya Pada ranting-ranting kering tak sudi ia bersemayam Dia memiliki ...

Pekon Helau

Pekon dalam Bahasa Lampung bermakna kampung atau desa. Helau artinya bagus, indah, asri. Dengan demikian, bila dipadukan menjadi pekon helau , yang bisa diartikan kampung atau desa yang bagus, terlihat indah, tertata sedemikian asri. Sehingga membuat warga penghuninya nyaman dan para pengunjung terkagum-kagum akan keindahannya. Untuk mendapatkan kampung yang indah atau pekon helau , agar warganya nyaman dan tamu yang datang merasa betah tinggal dan bisa jadi ketagihan untuk datang lagi, lagi, dan lagi, maka Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat meluncurkan Gerakan Pekon Helau (GPH). Diluncurkan oleh Bupati Agus Istiqlal pada Senin (15/5/2017) di Pekon Negeriratu, Kecamatan Ngambur. Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal disambut lalu diarak di bawah payung agung menuju tempat acara peluncuran Gerakan Pekon Helau di Pekon Negeriratu, Kecamatan Ngambur, Senin (15/5/2017) Foto: istimewa/humas_pemkab-pesibar. Dalam sambutannya, Bupati Agus Istiqlal mengatakan, tujuan diluncurkanny...

Sekala Brak Jaga Nilai Kebudayaan Nusantara

Gelaran acara Asian African Carnival 2017 yang digelar di Kota Bandung berlangsung meriah. Ratusan warga berjuluk Kota Kembang berbondong-bondong menyaksikan acara di Kawasan Jalan Asia Afrika, Sabtu (13/5) siang. Masyarakat dari berbagai kalangan dan usia terlihat hadir guna menyaksikan kemeriahan acara yang digelar oleh Pemkot Bandung itu. Teriknya cahaya matahari sama sekali tidak menyurutkan antusias masyarakat untuk menyaksikan kemeriahan Asian African Carnival 2017. Bahkan mereka rela berdesak-desakan untuk melihat lebih dekat kemeriahan parade. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berjalan beriringan dengan Raja Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak Edward Syah Pernong  Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengawali prosesi acara karnaval dengan memimpin sekaligus melakukan napak tilas para raja dari keraton se-Indonesia. Diawal acara Ridwan Kamil berjalan beriringan dengan Raja Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak Lampung Edward Syah Pernong yang bergelar Sultan Sekala Br...

Jajanan Pasar di ICD 2017

Menjadi pelajar atau mahasiswa di luar negeri membuka peluang bagi mereka untuk berperan serta dalam mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia di negara tempat mereka menempuh pendidikan. Apalagi di tempat mereka studi, pelajar atau mahasiswanya datang dari berbagai negara, tentu memiliki minat untuk mengenal budaya teman-temannya yang lain. Untuk tujuan mengenalkan budaya dan pariwisata Tanah Air, Perhimpunan Pelajar Indonesia Ghent (PPI Ghent), Belgia, menyajikan aneka penganan tradisional dan atraksi budaya, pada event budaya ICD ( International Culture Day ) 2017, Sabtu (6/5), di Hall Ontmoeting Buintenlandes Studenten Gent vzw (OBSG) Ghent. Event ini disambut antusias ratusan pelajar di Belgia. Selain memperkenalkan aneka penganan tradisional, seperti tumpeng , klepon , ketan serundeng , wajik , lumpia , emping dan kerupuk . Pelajar Indonesia juga mempertunjukkan Tari Minang, Tari Reog Ponorogo, Tari Kecak Bali, Pencak Silat, dan lagu-lagu tradisional Nusantara. Leb...

Tapis dan Siger Lampung Mendunia

Tapis, kain khas Lampung memukau peserta olimpiade Rio de Janeiro, Brazil yang datang dari berbagai negara. Tak hanya Tapis tapi juga Siger, yaitu mahkota khas yang biasa dikenakan pasangan pengantin dalam upacara adat disaat hari pernikahan mereka. Mengapa Tapis dan Siger Lampung memukau di acara parade peserta olimpiade? Karena motif Tapis Lampung mengubah seragam yang dikenakan para atlet dari sekadar seragam biasa menjadi luar biasa. Perpaduan motif Tapis dan motif Burung Garuda dengan warna merah di atas warna busana yang putih, telah mengukuhkan simbol merah putih sebagai warna Bendera Pusaka Indonesia dan lambang negara Burung Garuda. Sebagai kain tradisional khas Lampung, Tapis memiliki berbagai nama. Di antaranya Tapis Balak, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Ratu Tulangbawang, Tapis Cucuk Pinggir, Tapis Kaca, Tapis Inuh, Tapis Rajo Medal. Sedangkan ragam motifnya juga macam-macam, seperti motif manusia, motif flora dan fauna, kalau binatang berupa burung dan kalau tumbuh...

Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama Digelar

Yayasan Rancage bersama pemerintah Jawa Barat bersama menggelar Kongres Bahasa Daerah Nusantara pertama. ”Kongres ini diharapkan dapat membuka kesadaran masyarakat untuk upaya penyelamatan bahasa daerah,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar saat membuka kongres yang digelar tiga hari di Gedung Merdeka, Bandung, 2 Agustus 2016. Deddy mengatakan Indonesia merupakan negara terkaya kedua setelah Papua Nugini jika dihitung dari jumlah bahasa daerahnya. Papua Nugini tercatat memiliki 800 bahasa daerah, sedangkan Indonesia 749 bahasa daerah. Menurut Deddy, dari ratusan bahasa daerah itu kondisinya beragam. Dari jumlah penutur misalnya, bahasa daerah sejumlah etnis relatif aman karena jumlah penuturnya di atas satu juta orang seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Minang, Batak, Bugis, Bali, Aceh, Sasak, Makasar, serta Lampung. Namun ada yang terancam karena jumlah penuturnya kurang dari seribu orang. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendi...

Sudah 15 Bahasa Daerah Punah, 139 Lainnya Menyusul

BANDUNG - Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah bahasa daerah terbanyak di dunia. Sedikitnya ada 617 bahasa daerah yang telah teridentifikasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud). Meski begitu, pelestarian bahasa daerah belum sesuai dengan yang diharapkan, bahkan kondisinya semakin memprihatinkan. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ada 15 bahasa daerah yang sudah dinyatakan punah. Sementara sebanyak 139 bahasa daerah berstatus terancam punah. Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedy Mizwar, sedang menyampaikan sambutan. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Dadang Suhendar mengatakan, banyak faktor yang membuat bahasa daerah punah. Berdasarkan hasil penelitian, salah satu penyebab punahnya bahasa daerah adalah pernikahan antar suku. ”Contohnya suku Sunda menikah dengan suku Bugis. Kemudian (suku Sunda) ikut ke Makassar hidup puluhan tah...