Langsung ke konten utama

Sebuah Keniscayaan

Revitalisasi Pantai Pancer Door menjadi sentra wisata dan kuliner, memberi dampak sepinya alun-alun Pacitan. Lapak-lapak kuliner seperti jadah bakar, sate tahu, wedang tape, wedang jahe, kopi, es teh atau teh panas, dll. terlihat sepi pengunjung, tadi malam kami makan di kafe Teras Alun-Alun, sesudah itu kongkow di alun-alun. Kesan sepi begitu terasa.

Sebuah keniscayaan, ada pihak yang maju dan ramai akan diikuti pihak lainnya yang stagnan bahkan sepi. Begitulah dinamika kehidupan di sentra kuliner dan pariwisata suatu daerah. Akan datang masa panen raya, lalu perlahan ditinggalkan pengunjung. Sepi.

Lapak-lapak pedagang kuliner alun-alun Pacitan

Pasang surut seperti laut. Ada masanya pasang dan ada masanya surut. Saat ini sentra kuliner tepi laut di Pancer Door sedang naik daun, nanti akan sampai juga ke titik jenuh pengunjung, satu per satu lapak berguguran. Sepi seperti halnya alun-alun saat ini.

Ya, tidak menyangka alun-alun yang baru saja kami tengok, penjual jadah bakar (kuliner khas alun-alun) termangu melihat pengunjung alun-alun yang hanya duduk-duduk di bangku taman, tanpa mampir dan menikmati dagangan mereka. Mata air rezeki mati.

Entah juga karena bukan musim liburan sehingga tak banyak turis lokal yang berkunjung ke Pacitan. Kami ke sini memang saat liburan semester, libur lebaran atau nataru (natal dan tahun baru) saat banyak orang pada mudik. Kentara sekali perbedaan nuansanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...