Langsung ke konten utama

Postingan

Duka Kami

Heriansyah Ak (kemeja hitam), salah satu dari sedikit KKT yang tersisa. Tersampai kabar duka pagi ini, ibunda Hj. Megawani Oesman binti Oesman Adenan wafat pukul 05:00 tadi. Duka kami keluarga besar SKH LAMPUNG EKSPRES Plus, kehilangan sosok ibu pengayom kami kala jadi bagian pelaksana koran berwarna pertama di Bandar Lampung dan satu-satunya milik ulun Lampung asli. Saya mulai berkiprah di LE Plus sejak masih berupa surat kabar mingguan TAMTAMA yang berkantor di Jalan Patimura No.7, Telukbetung, Bandar Lampung tahun 1994. Kerabat Kerja Tamtama (KKT) istilah penyebutan bagi karyawan dan wartawan saat itu, hanya tersisa sedikt saja dari yang pernah berkiprah. Yang masuk sedikit itu selain saya ada Naim Emel Prahana, Heriansyah Ak, dan Ahmad Novriwan (Doel Remos) yang masih aktif berkegiatan di media dan termonitor di akun medsos. Ada juga Syahrir Hakim yang sudah pindah ke Pare Pos, Parepare, tetapi apa kabar beliau? Sudah lama tidak aktif di facebook . Yang lain sudah berpulang ke Har...

Tanjungkarang

Titik keberangkatan Bus Damri, Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, Sabtu (13/4/2024) malam. Arus balik pasca-mudik Lebaran Idulfitri 1445 H. mulai ramai. Hibuk di pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung, dipadati kendaraan roda dua dan empat. Begitu juga pelabuhan penyeberangan Merak, Banten. Stasiun Tanjungkarang yang menjadi titik berkumpul Bus Damri juga ramai oleh calon penumpang yang akan berangkat menuju Jabodetabek. Mereka akan kembali mulai aktif bekerja pada hari Selasa lusa. Calon penumpang pada umumnya karyawan swasta, ASN, dan pelaku UMKM berasal dari Lampung yang bekerja di Jabodetabek. Ada pula yang hendak terus melanjutkan perjalanan ke Jateng, Jogja, dan Jatim. Stasiun Tanjung Karang dan Terminal Pasar Bawah di masa lalu, nun jauh pada tahun '80an menjadi pusat pertarungan kekuatan para jawara. Bagi-bagi wilayah kekuasaan begitu transaksional. Siapa kuat, berkuasa. Tanjungk arang Puisi Zabidi Yakub Suatu malam di Tanjungkarang, dengus kelelawar mencari buah ma...

Sejarah Berulang

Kali pertama saya diajak teman wakuncar ke tempat yang jauh. Kota Pasuruan. Dari Malang naik bus. Makan ongkos. “Cinta berat di ongkos” namanya. Tetapi, demi cinta tentu tak ada kompromi. Pacarnya lumayan manis, pantas saja teman itu jatuh hati padanya. Masalahnya, seberapa cinta dan setia siapa yang bisa menduga kedalamannya. Anehnya, sejak itu pacar teman itu kok selalu titip salam pada saya. Apakah dia jatuh suka pada saya? Entahlah. Cerita keponakan, dia merasa saling suka dengan suaminya sejak masa SMP. Hubungan mereka putus-nyambung, entah berapa kali. Nah, barangkali kekuatan chemistry yang mereka miliki, setelah vakum dalam nuansa putus yang bukan dalam arti berhenti sama sekali, melainkan cuma jeda karena kesibukan kuliah yang berlainan tempat. Setelah dia kejar terus, akhirnya pacarnya luluh dan mau juga. Mereka pun menyatu dalam keluarga muda di Jakarta. Ada cewek di depan indekos jatuh suka sama saya. Sayangnya, kami berbeda keyakinan. Dia yakin saya juga suka, saya y...

Makhluk Resah

Ilustrasi, image source: Lektur.ID Di hari ketiga Lebaran, ada tiga tagar X (twitter) trending topics, yaitu #lebaran, #menikah, dan #keluarga. Di momen #lebaran, pertanyaan 'kapan menikah' acap jadi "candaan" di saat #keluarga besar berkumpul. Candaan dalam tanda kutip karena sering sekali teksnya bercanda, tetapi konteksnya keluar dari maksud bercanda. Bagi cewek maupun cowok yang usianya sudah kategori terlambat menikah, ditanyai 'kapan menikah' sulit mereka terima sebagai candaan. Kecenderungan mereka menganggap itu bagian dari nyinyir, usil atau cemooh yang sengaja menjatuhkan. Apa pun alasan kamu bertanya 'kapan menikah' (sekadar bercanda atau serius) bagi individu yang satu dengan yang lainnya bukanlah hal yang mudah untuk menerimanya. Bagi jomlo , dalam hati mereka pun bertanya, memangnya  kamu tidak punya bahan bercandaan lain selain mempertanyakan 'kapan menikah'? Belum menikah atau terlambat menikah, bagi jomlo ada alasan tersendiri...

Si Merah “Mudik”

ruam merah di kulit (image source: halodoc) Jadi, berkah dari Yang Maha Rahmaan dan Maha Rahiim kepada saya, berupa nikmat kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan kewajiban berpuasa bulan Ramadan tahun ini, sungguh saya syukuri. Sayangnya, terpaksa saya kudu “mecah” satu hari. Yang membuat saya “mecah” adalah hasutan sariawan. Rongga mulut saya seperti memeram bara api, rasa panas tak ketulungan. Karena itu, saya hanya menemani istri menikmati santap sahurnya. Sementara saya sengaja nggak sahur. Nggak sahur itu karena saya memang “niat” untuk tidak puasa keesokan harinya. Jadi sehari full saya gerujuk rongga mulut dengan larutan penyegar. Rasa panas pun berkurang, sehingga wajib puasa kembali bisa saya lanjutkan di hari berikutnya. Nah, meski sehat dan kuat menjalankan ibadah puasa bukan berarti tidak ada halangan lain selain gempuran sariawan itu. Di hari-H Lebaran, suhu badan agak meninggi, nggak tahu ukuran tensi darah berapa, nggak sempat memeriksakan diri. Naga-nag...

Mengembalikan Fitrah

  Sajak-Sajak Idulfitri Zabidi Yakub   Hari yang Fitri di hari yang fitri, hari ini gema takbir bersahut-sahutan usai salat ied, tangan bersalaman kata saling maaf berbalas-balasan posisi timbangan dikembalikan ke nol tanpa kesalahan seperti bayi baru dilahirkan di hari yang fitri, hari ini ucapan minal ‘aidin berbalas-balasan melalui pesan whatsapp di- copy paste -kan pengganti jabat tangan yang berjauhan yang belum berkemampuan bisa mudik keberuntungan mereka masih ditundakan di hari yang fitri, hari ini hati disucikan, sebulan dosa diputihkan merayakan lebaran dengan gembira dari rumah ke rumah bersilaturahim hidup adalah menyambungkan kasih kasih adalah perwujudan fitrah manusia BKP, 1 Syawal 1445  H | 10 April 2024 M Putih Idulfitri, orang-orang kembali ke fitrah putih dari dosa, satu bulan dilebur seperti putih bangunan rumah sakit seperti tilam putih di bangsal perawatan Idulfitri, dosa orang sakit diputihkan selang infus men...

Demam Duku

Pembeli duku mengerubungi penjual, demi suguhan di hari lebaran besok (foto: zy) Ramadan tiba di pengujung bulan. Lapak takjil gulung layar. Penukaran uang baru rame di pinggir jalan. Pedagang duku hujan spekulasi, kalau laris dapat cuan banyak, kalau nggak habis terjual bakal busuk atau paling tidak dukunya berwajah suram alias menghitam pertanda akan menjelang membusuk. Menjelang berakhirnya Ramadan, harga duku sudah anjlok di 15 ribu per 2 kg bahkan 6 ribu per kg. Eh… kok , ya, sore tadi terdongkrak naik ke 10-12 ribu per kg. Apa boleh buat, karena berpikirnya suguhan lebaran kali ini lebih afdal buah duku ketimbang nastar, maka saya beli juga karena harga 10 ribu mboten towo . Ramadan tahun ini berhiaskan musim buah yang gemah ripah . Manggis dan duku jadi primadona di antara buah lainnya. Ketika duku membanjiri pasar dengan harga yang murah meriah tak ayal bikin orang demam duku . Maka, suguhan lebaran besok dijamin duku akan leboh dominan menggeser nastar. Tetapi, ketupat op...