Ceritanya naik taksi online menuju stasiun Tanjungkarang. Sopirnya tetangga RT sebelah, biasa jemaah salat lima waktu di masjid. Artinya kenal, sepanjang perjalanan akan tetapi ia silent mode. Tidak bertanya hendak ke mana.
Ya, sudah, saya diam saja juga. Istri apa lagi karena memang tidak begitu paham dengannya. Saya kasih tahu, istri manggut-manggut. Taruhlah ia orangnya pendiam, kurang suka basa-basi, tapi tidak sedang sakit gigi.
Pernah ada cerita tentang ia ini, saya dengar Pak RT mereka yang cerita. Kata Pak RT mereka, ia ini hendak nyalon jadi ketua RT di lingkungan RT mereka. Tapi, oleh sesepuh di sana diwanti-wanti, lebih baik tidak usah.
Sesepuh ini pernah jadi ketua RT, dilengserkan warga. Ia ASN, akhirnya naik jadi lurah. Tapi, jadi lurah pun tidak bisa melobi Dinas PU Pemkot untuk mengaspal jalan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
Ada isu karena usulannya dijegal oleh anggota dewan yang tidak ia dukung lantaran beda partai. Si Bapak lurah ini partai kuning sedangkan si legislator partai merah yang berkuasa dan jadi "baju" wali kota saat itu.
Sekarang makin komplit partai yang bisa jadi "baju" pejabat daerah sehingga tidak ada lagi yang namanya jegal menjegal. Tidak ada lagi yang namanya oposisi. Yang jadi oposisi otomatis jadi musuh pejabat daerah.
Perangkat kekuasaan paling rendah adalah RT. Bisa dijinakkan dengan iming-iming uang insentif dan hadiah umrah. Itu yang membuat seseorang pengin maju jadi calon ketua RT, itu pun kalau ada yang mendukung.
Kasus driver car online di atas nyatanya tidak didukung sesepuh di lingkungan RT tempat tinggalnya. Cemana bisa mau menarik dukungan warga sebanyak-banyaknya. Lagi pula RT lama seperti takut hendak disaingi.
Wong aneh dalam masyarakat itu banyak macam ragamnya. Yang kasatmata sampai yang tersembunyi (silent mode) werno-werno. Mesti bisa menahan diri agar kewarasan pribadi bisa tetap terjaga. Jika tidak, gila.
Komentar
Posting Komentar