Langsung ke konten utama

Wong Aneh

Ceritanya naik taksi online menuju stasiun Tanjungkarang. Sopirnya tetangga RT sebelah, biasa jemaah salat lima waktu di masjid. Artinya kenal, sepanjang perjalanan akan tetapi ia silent mode. Tidak bertanya hendak ke mana.

Ya, sudah, saya diam saja juga. Istri apa lagi karena memang tidak begitu paham dengannya. Saya kasih tahu, istri manggut-manggut. Taruhlah ia orangnya pendiam, kurang suka basa-basi, tapi tidak sedang sakit gigi.

Pernah ada cerita tentang ia ini, saya dengar Pak RT mereka yang cerita. Kata Pak RT mereka, ia ini hendak nyalon jadi ketua RT di lingkungan RT mereka. Tapi, oleh sesepuh di sana diwanti-wanti, lebih baik tidak usah.

Sesepuh ini pernah jadi ketua RT, dilengserkan warga. Ia ASN, akhirnya naik jadi lurah. Tapi, jadi lurah pun tidak bisa melobi Dinas PU Pemkot untuk mengaspal jalan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

Ada isu karena usulannya dijegal oleh anggota dewan yang tidak ia dukung lantaran beda partai. Si Bapak lurah ini partai kuning sedangkan si legislator partai merah yang berkuasa dan jadi "baju" wali kota saat itu.

Sekarang makin komplit partai yang bisa jadi "baju" pejabat daerah sehingga tidak ada lagi yang namanya jegal menjegal. Tidak ada lagi yang namanya oposisi. Yang jadi oposisi otomatis jadi musuh pejabat daerah.

Perangkat kekuasaan paling rendah adalah RT. Bisa dijinakkan dengan iming-iming uang insentif dan hadiah umrah. Itu yang membuat seseorang pengin maju jadi calon ketua RT, itu pun kalau ada yang mendukung.

Kasus driver car online di atas nyatanya tidak didukung sesepuh di lingkungan RT tempat tinggalnya. Cemana bisa mau menarik dukungan warga sebanyak-banyaknya. Lagi pula RT lama seperti takut hendak disaingi.

Wong aneh dalam masyarakat itu banyak macam ragamnya. Yang kasatmata sampai yang tersembunyi (silent mode) werno-werno. Mesti bisa menahan diri agar kewarasan pribadi bisa tetap terjaga. Jika tidak, gila.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Ilustrasi | gambar panjat pinang dokumen facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tiku...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...