Buku ini dikirim dengan ongkir sistem COD. Tiba di rumah saat saya sedang di Cirebon, sebelum berangkat saya titipkan uang pada tetangga, untuk bayar ongkir agar paket buku tidak dikembalikan bila kang kurir beranggapan paket tidak diterima di tujuan.
Ramu-Ramu Warteg menghimpun puisi tentang kuliner warteg, mengulik segala hal ihwal yang berkenaan dengan warung khas dua pintu itu. Warteg, dari Tegal keluar batas wilayah melompati sekat kelas sosial orang yang butuh sekadar kenyang, tak lebih.
Dari pesisir pantura (Tegal dan Cirebon), warteg meluas melintas ke ibu kota Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Tahun 2026 saya perhatikan di sudut-sudut kota Bandar Lampung beberapa warteg berani mengibarkan panji khas warung kuliner baharian itu.
Berani betul warteg-warteg itu, padahal, lidah ulun Lampung terkenal dengan selera pedas. Sambal seruit paduan cabe rawit, rampai, dan dilan Menggala, kuliner paling favorit untuk dikunjungi kapan saja, alih-alih warteg yang serba oseng dan serba manis.
Sekilas memang seperti itu, tapi bagi orang yang prinsipnya sing penting madhang atau sing penting wareg, makan di warteg adalah solusinya. Orang dengan penghasilan pas-pasan seperti driver ojek online atau sopir angkut, madhang wareg lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar