Tadi malam keponakan ke Chamart Jl. Ki. Maja, Wayhalim. Katanya, beras habis begitu juga dengan mie instan pada diborong oleh orang-orang. Siapa mereka? Orang yang terhasut isu. Memang akan ada rencana aksi di depan gedung parlemen Senayan besok. Apakah aksi massa yang akan digelar itu berpotensi chaos seperti tahun 1998? Wallahu 'alam. Aparat keamanan (polisi dan TNI) tentu siap siaga menghadapi sebesar apa pun gelombang massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang akan berunjuk rasa. Apakah aksi massa yang (akan) digelar di Jakarta mesti diikuti aksi kalap warga luar Jakarta dengan memborong sembako? Ini yang tidak saya mengerti, kok bisa.
Seorang bapak (tetangga) tadi pagi terlihat kusut mukanya. Kata saya, membecandainya, "Jika masih ngantuk, tidur lagi sana." Apa jawaban yang ia lontarkan? "Bagaimana bisa tidur, beras nggak ada, hilang semua," ketusnya. "Di sana (saya sebut nama grosir langganan) nggak ada?" tanya saya. "Nggak ada, kalau ada sudah beli saya," kilahnya. Saya terdiam, teringat omongan keponakan tadi malam. Agak menyesal, kenapa sepulang dari Wayhalim tadi malam kami tak sempatkan mampir di minimarket merah atau biru untuk mengecek apakah di sana juga ada aksi kalap warga sehingga beras, mie, dan kebutuhan dapur lainnya juga mulai langka.
"Kalau nggak ada akar, rotan pun jadi" sudah biasa kita dengar. Tapi, "kalau tak ada beras, lalu..." Ini aforisme baru. Hendak diisi apa titik-titik di belakang diksi "lalu" itu. Tak terpecahkan. Sama seperti misteri di balik aksi kalap warga memborong sembako itu apa? Tak terpecahkan. Pemerintah bila hendak menaikkan harga BBM, biasanya SPBU menutup layanan lebih cepat. Memasang plang "HABIS" saja sudah maklum masyarakat. Kalau pun ada masih melayani, itu berarti rencana kenaikan BBM hanya isu. Itu cara SPBU menciptakan panic buying pada masyarakat yang bingungan dan mudah terhasut isu yang beredar di jejaring sosial warga.
Komentar
Posting Komentar